Tampilkan postingan dengan label penyakit tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit tanaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Solusi Mengatasi Hama Kumbang Pada Tanaman Mentimun

Bicara soal mentimun hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah �Jus�, jus mentimun yang segar dingin dan nikmat disuatu pagi yang cerah, disebuah kedai minuman dengan ornament bamboo, aduhai sungguh nikmat, terlebih jika diiringi alunan syahdu Lois Amstrong �What a wonderful world�, semakin lengkap sudah.

Tapi pemirsa secuil kenikmatan diatas tidak adil pula kiranya jika kita tidak membahas tentang bagaimana caranya mentimun yang tersaji dalam segelas minuman jus tersebut, bisa tumbuh sehat nikmat dibeli oleh pemilik kedai dan disajikan oleh pelayan dalam secangkir minuman, karena persolan membuat tanaman mentimun tersebut untuk tumbuh baik dan sehat membutuhkan perjuangan yang juga tidak mudah, dan kebanyakan petani mentimun masih mengalami persoalan yang pelik ketika tanaman mereka diserang oleh aneka serangga pengganggu.
Ragam gejala serangan hama pada tanaman mentimun
(Ragam gejala serangan hama pada tanaman mentimun)
Mentimun atau dalam bahasa latinnya Cucumis sativus L, buah sayuran yang sangat dikenal dan banyak dikonsumsi masyarakat, disamping mengandung gizi yang lengkap, mentimun juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, dan dengan adanya organisme pengganggu baik itu berupa hama atau penyakit dapat mempengaruhi kuatitas dan kualitas buah yang dihasilkan.

Kebanyakan hama yang mendominasi serangan pada mentimun adalah dari golongan serangga, menurut seorang pakar pertanian Tamo (2003) tanaman dari family Cucurbitaceae ini menjadi utama bagi kumbang mentimun Aulacophora similis, dengan tingkat serangan dilapangan berada pada posisi tertinggi.

Karena itu upaya pengendaliannya harus dilakukan berdasarkan pada pertimbangan ekosistem, mengapa demikian karena jika menggunakan insektisida berlebihan dapat menyebabkan resistensi [lihat terjemahan istilah pertanian pada link ini] pada hama sasaran dan bisa memunculkan hama sekunder, bagaimana cara mengatasi hama pada tanaman mentimun ini, untuk alasan itulah artikl ini ditulis.

Ada metode yang bisa diterapkan jika ingin membuat tanaman mentimun tahan terhadap serangan berbagai serangga pengganggu ini, metode tersebut kita rangkum dalam item dibawah ini.

Salah satu metode yang paling efektif dan ampuh untuk membuat tanaman mentimun tahan terhadap serangan serangga kumbang ini adalah dengan memberikan ketahanan induksi, dengan mengetahui kemampuan tanaman mentimun yang memiliki sifat-sifat memungkinkan ia terhindar, atau pulih kembali dari serangan hama, dan kemudian tentu saja dengan harapan ketahanan tersebut bisa di wariskan, sehingga kemungkinan hama menggunakan tanaman mentimun sebagai inang bisa diprediksi.
Salah satu serangga yang menyerang mentimun
(Salah satu serangga yang menyerang mentimun)
Cara memberikan ketahanan tanaman inang terhadap serangga hama adalah dengan memberikan semacam rangsangan yang tepat pada tanaman, yakni dengan memberikan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) namanya.

Memperlakukan benih tanaman mentimun dengan PGPR dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun sekaligus mengurangi populasi kumbang mentimun, mengapa PGPR dapat membuat mentimun tahan terhadap hama kumbang, karena sifatnya yang mampu melakukan perubahan struktur dinding sel serta perubahan biokimia dan fisiologi, sehingga sintesa protein dan senyawa kimia lainnya dalam tanaman mentimun ikut terlibat dalam mekanisme pertahanan, jika anda ingin mengendalikan kumbang pengganggu pada mentimun gunakanlah PGPR, karena PGPR terbukti lebih efektif daripada menggunakan pestisida.

Metode lainnya yang digunakan untuk membuat tanaman mentimun tahan terhadap serangan hama kumbang, adalah dengan melakukan modifikasi genetic, sehingga dengan demikian tanaman mampu menghasilkan senyawa kimia yang kurang disukai oleh hama kumbang, salah satu bentuknya adalah dengan menyilangkan mentimun yang memiliki rasa pahit dan yang tidak.

Selasa, 21 Juni 2016

Apa Sebabnya Tanaman Tuan Sakit

*Filosofi dasar mencintai tanaman

Jika anak tuan/puan yang sakit barangkali sesegera mungkin tuan akan memeriksakannya ke dokter, dan segera ingin tahu apa penyakit dan penyebabnya, namun jika tanaman tuan yang sakit (sekalipun tanaman kesayangan) belum tentu tuan akan sesegera itu mencari tahu penyebabnya, kenapa demikian? Karena memang dokter tanaman belum terlalu banyak di muka bumi ini, dan jikapun ada barangkali dokter tanaman itu sedang berada disebuah kelas di universitas yang ada jurusan pertaniannya.

Kali ini blog menanam tanaman akan coba mengulas secara renyah dan nikmat, apa hal yang menyebabkan sebatang tanaman sakit, tentu saja tujuan pembahasan ini tidak diperuntukkan bagi kalangan akademik pertanian, yang secara silabus perkuliahan setiap waktu mengunyah istilah-istilah penyakit tanaman, dan melakukan aktifitas observasi terhadap penyakit tanaman, namun pembahasan kita kali ini barangkali lebih tepat ditujukan kepada kalangan petani praktis, yang setiap waktu menggantungkan kehidupan keluarganya dari hasil usaha pertanaman, apapun jenis tanaman yang ditanam.

Dua orang pakar pertanian dunia mencoba memberikan definisi terhadap penyakit tanaman ini, dua orang itu adalah Stakmann dan Harrar, menurut dua pakar ini, penyakit pada tanaman itu terjadi karena adanya penyimpangan fisiologis yang permanen dari pertumbuhan normal tanaman, lalu penyimpangan tersebut menimbulkan gejala yang merugikan terhadap mutu, dan menurunkan nilai ekonomis dari tanaman tersebut.

Karena penyebab utama penyakit tanaman disebabkan oleh penyimpangan fisiologis, berikutnya tentu kita ingin mengetahui siapa pula pelaku yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan fisiologis ini? Nah jika pertanyaannya sudah mengarah agak kedalam, maka para dokter tanaman akan menjelaskan tentang factor penyebab penyimpangan fisiologis ini.

Sesungguhnya ada banyak hal yang bisa memicu terjadinya penyimpangan fisiologis suatu tanaman, secara garis besarnya salah satunya disebabkan oleh mahluk hidup itu sendiri selain dari serangga hama, dan ia bersifat menular, sesuatu yang bisa menularkan tersebut dalam kajian ilmu pertanian dikenal juga dengan nama parasit (bahasa biologinya pathogen).

Ketika analisis kita sampai kepada parasit, maka perlu kita ketahui parasit atau pathogen ini sifatnya memang jahil, karena ia berupa mahluk hidup maka parasit ini bisanya cuma hidup di dalam suatu organisme, kemudian ia berkembang biak dan mengambil makanan langsung pada organisme tersebut organisme lainnya, dan organisme tempat parasit ini hidup oleh pakar biologi diberi istilah INANG.

Inang yang menjadi tempat bergantungnya hidup parasit ini bisa jadi salah satunya tanaman tuan yang sakit itu, namun ternyata setelah kita bisa menyimpulkan tanaman yang sakit karena adanya parasit yang hidup disana, ternyata masih ada lagi beberapa turunan bagian yang harus pula kita sebutkan.

Turunan tersebut adalah, adanya istilah parasit, saprofit dan epifit, ternyata ketiga istilah inilah yang berpengaruh terhadap tampaknya gejala penyakit pada tanaman tuan yang sedang sakit, dan ketiga istilah ini lahir karena didasarkan kepada tempat hidupnya, baik itu parasit, saprofit dan epifit.

Penyebab oleh Parasit

Parasit berdasarkan tempat hidupnya, kelakuannya selama ia hidup pada tanaman inang, ia makan dan berkembang biak dan merusak organisme tempat ia hidup, jika hal ini terjadi pada tanaman tuan, maka ia akan memakan dan berkembang biak sampai tanaman tuan mati meragan.

Penyebab Saprofit

Jika tanaman tuan sudah mati meragan (menjadi benda mati) dan ternyata masih ada parasit pathogen yang menggantungkan hidupnya disana, maka ia diistilahkan oleh para pakar biologi dengan saprofit, dan tentu saja jika ia terkena bagian tanaman yang lain misalnya daun atau akar, maka ia juga berkemungkinan untuk hidup dan berkembang biak pada tangkai daun tersebut.

Penyebab Epifit

Halnya dengan epifit ini, ia hidup dan berkembang biak pada bagian yang sudah mati dari suatu bagian tanaman, misalnya daun pada bagian tangkai bawah tanaman tuan sudah mati, pathogen epifit hidup pada bagian tersebut, dan tentu saja ia juga berpotensi untuk menular ke bagian yang lainnya.

Mengingat penyebab-penyebab sakitnya suatu tanaman ini kasat mata, dan hanya terlihat ketika sudah terlihat bentuk gejala, maka sangat kami sarankan agar tuan mencintai tanaman itu dengan sepenuh hati, artinya sebelum terlihat gejala maka perhatikanlah makanan dan minumannya, apakah tercukupi atau tidak, kemudian jaga ia agar tidak disentuh dan dijamah oleh serangga.

Oh ya, ada satu lagi tuan petani yang terlupakan oleh saya, perlu pula kiranya saja jelaskan fisiologis itu artinya, sebuah proses biologi, baik itu berupa sel jaringan yang terdapat dalam tubuh tanaman dan menjadi penentu utama suatu tanaman itu tumbuh, berbunga, berbuah, dan berkembang biak.

Demikianlah penjelasan sederhana tentang penyebab tanaman tuan sakit, jika ada yang ingin tuan diskusikan jangan sungkan, silahkan tuliskan di kolom komentar, terima kasih atas perhatiannya.

Salam �

Minggu, 31 Januari 2016

Obat Ampuh Mengatasi Hama Kutu Daun Pada Cabe

Hama yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe, karena umumnya petani cabe mengalami �Diskriminasi� oleh kelakuan hama kutu daun ini, baiklah karena hama ini termasuk bandel dan harus dikendalikan agar tanaman cabe kesayangan anda tetap menghasilkan buah yang baik dan banyak, mari kita coba ungkap cara mengatasinya.

Kutu daun atau lebih populer dengan nama Bemicia Tabacci, paling senang menyerang tanaman dari family solanace, baik itu cabe maupun terong, namun demikia ia juga hobi merusak tanaman lainnya, perkembangannya meningkat manakala musim berganti ke hujan, ketika curah air tinggi kutu-kutu ini dengan mudahnya berkembang biak, pada tanaman cabe anda bisa temukan dibalik dedaunan cabe, kadangkala ia juga ditemani oleh semut hitam, yang katanya hobi memakan serbuk putih yang dihasilkan oleh kutu kebul.

Banyak cara yang diceriterakan oleh para blogger di dunia maya tentang cara terbaik mengendalikan hama kutu ini, semua trik tersebut sebenarnya bisa cobakan, namun dalam pembahasan kali ini kita akan melihat cara pengendalian kutu ini dengan model lain, dimana hampir sebagian petani kita tidak terlalu memperhatikan cara ini, cara tersebut adalah dengan memanfaatkan kondisi vegetasi tempat dilaukannya usaha budidaya cabe tersebut.

Namun sebeluk kita membahas model pemanfaatan vegetasi tersebut, ada baiknya kita jabarkan terlebih dahulu cara ampuh mengatasi hama kutu putih pada cabe ini.

1. Pengendalian dengan cara ekstrim

Cara ini adalah dengan memanfaatkan minyak tanah dan deterjen dalam mengendalikan kutu putih, agar lebih mudah kita anggap takaran penyajiannya untuk satu botol sprayer tangan, untuk takaran ini yang kita butuhkan adalah, deterjen atau sabun colek, kemudia air, dan minyak tanah.

Perlu pula kami sampaikan, minyak tanah sebenarnya berbahaya sekali untuk tanaman cabe, bahkan bisa mematikan tanaman cabe kesayangan anda, namun aromanya bisa dimanfaatkan untuk mengusir kutu kebul ini, oleh karena ini gunakan minyak tanah sedikit saja, karena fungsinya hanya untuk menciptakan aroma tidak sedap, dan kandungan minyaknya yang tidak baik untuk pencernaan kutu kebul.

Caranya :

Ambil deterjen secukupnya, kemudian campurkan dengan air sambil diaduk, pada mulanya air yang digunakan untuk mengaduk ini sedikit saja, kemudian ambil minyak tanah dengan takaran lebih kurang satu mili saja, atau bisa jadi lebih sedikit lagi, aduk lagi bersama deterjen kemudian diamkan sampai busanya hilang, setelah itu baru dicampurkan dengan air secukupnya untuk spayer tangan, selesai tahap ini anda bisa langsung semprotkan ke balik daun cabe.

2. Pengendalian dengan menggunakan serai

Pengendalian dengan cara ini tergolong mudah, ditambah lagi tanaman serai dengan mudah bisa ditemukan, untuk pengendalian dengan serai juga bermaksud memanfaatkan aroma dan rawa pahit yang dihasilkan oleh air perasan serai, berikut cara membuatnya.

(Foto : Serai yang sudah ditumbuh halus untuk membasmi kutu putih - sumber : warasfarm.wordpress.com)


Caranya :

Ambil serai sebanyak lebih kurang satu kilo, untuk ukuran pemakaian sprayer tadi, kemudian serai ini ditumbuk halus, kalau bisa sehalus-halusnya, atau anda juga bisa memanfaatkan blender atau peralatan lainnya, setelah itu serai direbus dengan air sebanyak tiga liter, kemudian ketika air rebusan sudah mendidih, kemudian angkat dan diamkan beberapa saat, setelah dingin tambahkan sabun deterjen sebanyak tiga sendok the, kemudian kocok dan semprotkan pada tanaman cabe anda.

Model pengendalian hama kutu daun pada cabe dengan memanfaatkan vegetasi lingkungannya, maksudnya adalah dengan membiarkan gulma tumbuh disekitaran batang cabe, membiarkan gulma tumbuh ini bukan berarti membiarkan tanaman cabe anda ditumbuhi semak, namun maksudnya adalah disekeliling batang cabe tersebut dibersihkan dari gulma, dengan radius dua jengkal tangan, pada intinya batang dan daun tanaman cabe tidak bersentuhan langsung dengan gulma.

Mengapa cara ini perlu juga diperhatikan, karena sifat kutu putih yang menyukai daun sebagai tempat hidupnya yang hakiki, maka demikian dengan membiarkan gulma tumbuh disekitar pertanaman cabe, diharapkan kutu kebul tidak terlalu leluasa langsung menuju tanaman cabe, atau jika perlu anda juga bisa menanam bunga-bunga yang berwarna cerah, sehingga kutu kebul lebih tertarik kepada bunga dari pada ke tanaman cabe kesayangan anda.

Memanfaatkan vegetasi disekitar pertanaman cabe untuk pembasmian serangga kutu putih ini sangat manjur, beberapa mitra tani cabe kami di kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya, telah membuktikannya dan menyarankan agar petani-petani cabe lainnya tidak mensepelekan keberadaan gulma ini.

Obat Ampuh Mengatasi Hama Kutu Daun Pada Cabe


Nah bagaimana pemirsa, mudah bukan cara mengendalikan hama kutu putih ini, selamat mencoba.

Rabu, 15 April 2015

Tipe Gejala Utama Penyakit Tanaman Disebabkan Bakteri

Berikut tabel karakteristik gejala penyakit akibat bakteri yang diambil dari pendapat klement (1990), bagi anda yang ingin mengetahui gejala penyakit pada tanaman kesayangan anda, silahkan perhatikan pada tabel dibawah ini.
Tipe Gejala Utama Penyakit Tanaman Disebabkan Bakteri
(Ilustrasi)

No Tipe Penyakit Jaringan Yang TerserangJenis PenyakitNama Patogen
1 Bercak daunSerangan pada ruang antara sel dan nekrotik pada jaringan parenkim.Bercak kebasahan, eksudat oose bakteri, bercak daun bersudut hawar halo, klorosis pada daun muda, hawar daun, bercak buah.-Pseudomonas
- Xanthomonas
2 Penyakit kanker dan mati merantingSerangan pada kulit dan jaringan berkayu melalui luka, tunas, kelopak daun, daun muda dan bunga.Nekrosis kulit, kangker, gummosis, mati meranting (apoplexy), hawar pucuk, daun berlobang, busuk tunas, nekrosis kulit, mati meranting, oose bakteri, hawar bunga dan ranting.Kelompok bakteri, Pseudomonas syringae, Pv Syringae.

- Erwinia amylavora
3 Layu pembuluh Serangan pada jaringan pembuluhLayu, kerdil, jaringan pembuluh berwarna cokelat, busuk melingkar pada kentang, bercak mata burung pada tomatBakteri, Coryneform, Ralstonia solanacearum, beberapa Xhantomonas dan Erwinia.
4 Busuk lunakMaserasi pada lamella tengah dan dinding primer sel tanamanBusuk lunak pada umbi kentaqng, bawang dan lain-lain, penyakit kaki hitam.Erwinia dan beberapa Pseudomonas
5 Proloferasi dan tumorransangan pada sel tanaman dan jaringan untuk tumbuh abnormalBengkak mahkota, crown gall, bengkak pada ranting, akar berlebihan (hairy root), fasciationAgrobacteria, Ralstonia fascians, Pseudomonas savastanoi subsp savastanoi.

Selasa, 11 November 2014

Deteksi dan Karakterisasi Virus Tanaman

Karekterisasi dan pendeteksian virus tanaman telah banyak menggunakan teknik molekuler, seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), fragmen Dna yang diinginkan dapt diamplikasi secara enzimatik (in vitro) oleh reaksi PCR (Saiki dan Muniyappa, 1990), pengujian dengan teknik tersebut memerlukan sepasng primer yang spesifik yang akan menginduksi pembentukandan perbanyakan rangkaian asam nukleat atau untai DNA tertentu dengan bantuan enzim taq polymerase dalam mesin PCR atau thermocycler, proses selanjutnya adalah siklus perbanyakan melalui tahapan denaturasi, penempelan dan pemanjangan primer (Hull, 2002).

Metode PCR memerlukan DNA sebagai sumber amplifikasi (Template DNA) sehingga tidak bisa secara langsung diaplikasikan terhadap kebanyakan virus tumbuhan yang bergenom RNA, oleh karena itu RNA harus di konversi menjadi virus tumbuhan yang bergenom cDNA dengan bantuan enzim reverse transkriptase, RT-PCR adalah metode yang sangat sensitif, cepat dan populer untuk mendeteksi virus tanaman termasuk anggota genus Cucumo virus.

Untai ganda RNA (dsRNA) dapat dengan mudah ditemukan dalam jaringan tanaman terinfeksi bersama untai tunggal RNA (ssRNA) virus, keberadaan dsRNA di dalam jaringan tanaman biasanya di gunakan untuk mendiagnosis dan mempelajari sifat dan proses infeksi virus, untai ganda yang di isolasi dari jaringan tanaman terinfeksi virus yang kemudian di visualisasi pada gel agrose atau acrylamidae sehingga hasilnya dapat digunakan dengan membandingkan pola pita virus yang telah diketahui (Bantari & Goodwin, 1985).

Serodiagnosa merupakan cara deteksi virus dengan memanfaatkan reaksi antara antigen dan antibody (Agrios, 1997), metode ini mempunyai banyak keuntungan antara lain cepat, tepat dan dapat digunakan untuk karakterisasi virus serta untuk mengetahui hubungan kekerabatan suatu virus, salah satu uji serologi adalah Enzym Linked Immunosorbert Assay (ELISA) yang pertama kali dikembangkan oleh clark dan Adam (1997), salah satu bahan dasar yang digunakan untuk pengujian serologi adalah tersedianya antibody, sebagai langkah awal untuk membuat antibody adalah dengan melakukan isolasi virus dan inangnya dengan cara purifikasi virus.

Metode pmurnian virus ini sangat tergantung dari sifat dan jenis virusnya, purifikasi CMV telah banyak dilakukan seperti yang telah dilaporkan oleh Hsu et al (1989), selain hasil purifikasi dapat digunakan untuk analisis selubung protein dan pengamatan morfologi virus.

Inang diferensial atau tanaman indikator merupakan salh satu cara untuk mengkarakterisasi masing-masing isolat berdasarkan kesesuaian pada suatu inang, selain itu dapat juga untuk mengetahui virulensi masing-masing isolat tersebut, pada awal perkembangan ilmu virologi penggunaan inang diferensial menjadi salah satu metode yang rutin digunakan untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi virus tanaman, hal ini dilakukan karena gejala penyakit yang jelas tentang virus yang menyebabkan penyakit tersebut terjadi.

menanam tanaman

Senin, 10 November 2014

Penyebab Penyakit kuning Keriting Pada Cabai

Cabai (Capsicum anuum) merupakan salah satu komoditi sayuran penting karena mempunyai nilai ekonomi yang tingi dan mempunyai banyak kegunaan, cabai mengandung zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia terutama vitamin A dan C, buah cabai dikenal sebagai bahan penyedap dan pelengkap makanan, selain itu cabai juga digunakan sebagai ramuan tradisional untuk keperluan obat-obatan, kandungan zat yang terdapat dalam cabai dimanfaatkan untuk segala jenis pengobatan, seperti kejang otot, rematik, sakit tenggorokan dan lain sebagainya.

Masalah yang dihadapi petani cabai salah satunya adalah serangan berbagai penyakit, penyakit-penyakit yang sering ditemukan menyerang tanaman cabai diantaranya penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum, penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, penyakit busuk daun yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestan, Anthraknosa (busuk buah) yang disebabkan oleh cendawan Colletroticum sp,  penyakit rebah batang yang disebabkan oleh cendawan Phytium sp, dan beberapa penyakit virus.

Virus yang menyerang tanaman cabai pada umumnya di tularkan melalui serangga vektor (serangga penghisap), virus yang umum ditemukan pada tanaman cabai adalah Cucumber mosaic virus, Tomato mosaic virus, dan Potato virus Y (Semangun, 1991), Chili veinal motlle virus (Taufik, 2000), Pepper yellow leaf curlf virus atau lebih dikenal dengan istilah Gemini Virus (Hidayat, 2005; Syaiful, 2005).
Penyakit virus yang paling dominan dan sangat merugikan tanaman cabai pada satu dekade ini adalah penyakit virus kuning keriting, tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukan gejala daun menguning cerah/pucat, daun keriting, daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah (Hartono, 2006), gejala penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di jawa barat (Hidayat, 1999), dan pada tahun 2000 dilaporkan sudah terjadi epidemi di pulau jawa (Sulandari, 2004).

Hasil penelitian Zulfadli (Mahasiswa jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Andalas) April 2008 menjelaskan penyebab penyakit kuning keriting pada cabai di kota padang menunjukan, bahwa penyakit kuning keriting pada cabai disebabkan oleh Gemini Virus dengan berbagai karakter dan gejala, dan Gemini virus ini berasosiasi dengan virus PMMV (Pepper mild motlle virus), hasil pengamatan lapangan memperlihatkan gejala paling dominan ditemui adalah ; daun kecil-kecil, kuning, keriting, dan tanaman kerdil.

Penelitian tentang penyebab penyakit kuning keriting pada cabai tersebut dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama survey karakteristik gejala dengan metode pengambilan sample yang dilakukan secara purposive random sampling, tahap kedua menganalisis sample daun cabai secara serologi dengan Enzym Linked Immunusorbert Assy (ELISA), dan amplifiasi Polymerase chain reaction (PCR) untuk Gemini virus.

Pepper Mild Motlle Virus (PMMV)
Menurut Brunt et al (1990), PMMV pertama kali ditemukan pada cabai besar di soouth carolina, amerika serikat, sinonim virus ini adalah ; Strain TMV yang laten pada tembakau samsun, sedangkan yang termasuk strain dari PMMV adalah Capsicum mosaic virus, Samsun laten isolat P8 dari TMV. PMMV berbentuk batang kaku, tidak beramplop, biasanya lurus, panjang sekitar 312 nm dan lebar 18 nm (nm = nano meter).

Gejala PMMV pada cabai besar berupa klorosis ringan pada daun, bunga mengecil dan malabentuk, mosaic, dan kadang-kadang tampak daerah cekung yang nekrotik, apabila tanaman cabai terinfeksi dini oleh virus ini maka tanaman akan memperlihatkan pengerdilan yang berat, pada pertanaman cabai dilapangan infeksi dapat mencapai 100% dan hasil buah menurun drastis.

menanam tanaman

Jumat, 11 Juli 2014

Penyakit Virus Kuning Keriting pada Tanaman Cabai dan Tomat serta Upaya Pengendaliannya

Tanaman Cabai dan Tomat merupakan dua jenis tanaman sayuran yang penting dan menjadi salah satu pendapat bagi petani. Tanaman cabe dapat ditemukan disetiap wilayah baik di dataran rendah, sedang sampai dataran tinggi, sedangkan tanaman tomat banyak ditemukan di dataran sedang sampai tinggi.

Ada beberapa organisme pengganggu tanaman (OPT) penting yang ditemukan pada tanaman cabe dan tomat. Pada tanaman cabe ditemukan adanya OPT seperti Tungau Kuning (Polyphagotarsonemas lotus), Thrips (Thrips parvispinus), Kutu daun (Myzuzs persicae), Lalat buah (Bactocera sp), Puru buah (Asphondylia sp), Antraknosa (Colletotrchum capsici), Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), Layu cendawan (Fusarium axysporum dan Sclerotium sp), berbagai penyakit virus (CMV, CVMV, TMV, PVY). Pada tanaman tomat OPT yang terpenting adalah: Ulat buah (Helicoverpa armigera), penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu jamur (Fusarium axysporum) dan penyakit busuk daun (Phytophthora infestans). Akan tetapi, selain penyakit yang disebutkan diatas, sekarang muncul lagi satu jenis penyakit yang menyerang cabe dan tomat yaitu penyakit Virus Kuning Keriting.

Penyebab dan Cara Penularan

Penyakit virus ini disebabkan oleh Pepper Yellow Curl Leaf Virus (PYCLV) pada tanaman cabe dan pada tanaman tomat disebabkan oleh Tomatto Yellow Curl Leaf Virus (TYCLV). Penyakit virus kuning ini ditularkan oleh vektor Kutu kebul (White fly / Bemisia tabaci) dan melalui penyambungan, tetapi tidak ditularkan secara mekanis dan juga tidak ditularkan melalui benih. Di alam penyebaran kutu kebul selain dapat terbang sendiri juga dibantu oleh angin sehingga dapat menyebarkan virus kuning keriting dalam jarak jauh. Tanaman inang virus tersebut adalah cabe, cabe rawit, tomat, tembakau, ketimun, semangka, gulma babadotan (Ageratum conyzoides) dan bunga kancing (Gomphrena globosa). Sedangkan tanaman inang vektor sangat banyak sekali terdiri dari 67 famili: Asteraceae, Brasiceae, Cucurbitaceae, Solanaceae, dll atau 600 spesies tanaman dan gulma.

Gejala Serangan

Pada tanaman cabe yang berumur kurang dari satu bulan (masa vegetatif) adalah helaian daun mengalami vein clearing, mengecil dan berwarna kuning cerah. Daun menggulung ke atas (cupping), tulang daun menebal, tanaman tumbuh kerdil dan tidak berkembang. Pada tanaman yang berumur diatas satu bulan (masa generatif) adalah: daun-daun bagian bawah masih normal, sedangkan daun bagian atas kecil-kecil dan menggulung ke atas (cupping), berwarna kuning cerah, dan tulng daun menebal. Bunga masih bermunculan tetapi banyak yang gugur, bunga tidak normal (pendek dan melengkung). Pertumbuhan tanaman tidak normal atau kerdil. Gejala serangan pada tanaman tomat lebih beragam, tergantung isolat virus dan varietas tanaman.

Usulan Rekomendasi Pengendalian

1. Gunakanlah benih tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau tidak berasal dari daerah yang terserang.
2. Melaksanakan rotasi (pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus) terutama bukan famili  solanacearum seperti cabe, tomat, dan cucurbitaceae seperti mentimun. Rotasi tanaman harus dilakukan   per hamparan, tidak cukup perorangan, serentak dan seluas mungkin.
3. Jika biaya memungkinkan, dilakukan pemasangan kelambu di pembibitan sarapai, sehingga tanaman terhindar dari serangga vektor virus (terutama saat populasi tinggi/musim kemarau).
4. Menanam tanaman barrier/pembatas disekeliling lahan tanaman seperti tanaman jagung atau serai.
5. Menanam lebih dari satu batang tanaman per lubang tanam (2-3 batang per lubang tanam) untuk penyisipan apabila ada tanaman yang mati atau terserang virus ketika tanaman masih fase vegetatif.
6. Tidak menanam tanaman cabe dan tomat secara monokultur, dianjurkan secara tumpang sari seperti  dengan bawang daun, dll.
7. Penggunaan agens hayati Beauvaria basiana dengan menyemprotkan pada permukaan daun sebelah bawah yang dilakukan sebelum pukul 09.00 pagi baik untuk tanaman cabe/tomat maupun pada tanaman barrier.
8. Aplikasi agens hayati Pseudomonas finorescens (Pf) + ekstrak gulma bunga pahit (Tithonia diversifolia) sekali seminggu dan pupuk NPK dalam bentuk cair sekali per 10 hari.
9. Sanitasi lingkungan, terutama mengendalikan gulma berdaun lebar seperti babadotan (Ageratum conyzoides) dan ciplukan (Gomphrena globosa) yang menjadi tanaman inang virus.
10. Eradikasi tanaman terserang, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala, segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan  ke tanaman lain.
11. Pemasangan perangkap likat kuning dan atau perangkap air pada wadah berwarna kuning, sebanyak 40 buah per ha untuk menarik serangga penular.

menanam - tanaman
(Gejala virus kuning keriting)
Sumber foto: agriculturproduct.blogspot.com



Senin, 16 Juni 2014

Berbagai Cara Pengendalian Hama Pengganggu Tanaman

Semakin banyak dan berkembangnya hama yang menjadi pengganggu tanaman, mengharuskan petani untuk tidak tinggal diam, apalagi jika kualitas dan kuantitas dari hasil pertanian menurun. Seperti pengendalian penyakit tanaman, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama tersebut.

1. Pengendalian Hayati
Cara yang sekarang sudah mulai ramai digunakan dalam suatu sistem terpadu adalah pengendalian hayati seperti insektisida-mikrobia, hormon, penarik seks, penolak serangga (insect repellant) dan penolak makan (antifeeder), sedangkan tanaman penjebak, umpan dan perangkap cahay (light trap) semuanya merupakan pengendali hama yang cukup baik dan aman bagi lingkungan.

2. Perlakuan atau Perawatan Tanah
Untuk perlindungan umum terhadap hama tanah, insektisida dalam bentuk serbuk atau butiran sangat efektif. Beragam jenisnya dan salah satu diantaranya seperti Furadan, adalah insektisida sistemik dan dapat melindungi semai selama beberapa minggu. BHC juga salah satu contoh insektisida, BHC lebih persisten tetapi sangat efektif dan murah. Akan tetapi sekarang telah dilarang penggunaannya bersama DDT di banyak negara. Sebelum aplikasi, kondisi tanah perlu dinilai secara teliti; kelebihan lengas, kandungan humus tinggi dan pencampuran yang terlalu dalam dapat mengurangi keefektivannya.

3. Perlakuan atau Perawatan Benih
Dalam beberaoa keadaan (misalnya jika lalat buncis dan tempayak kumbang menjadi masalah) benih perlu dilindungi dengan insektisida maupun fungisida. Kedua zat kimia ini dapat diberikan bersama; bahkan sekarang banyak tersedia campuran fungisida-insektisida.

Mereka dapat diberikan sebagai serbuk halus secara sederhana dengan mengocoknya dalam kantong plastik dengan dua kali kapasitas volume benih untuk mendapatkan penyalutan. Cara lain yang lebih efektif adalah membuat pasta (bubur) cair (sloppy) dimana benih dicelupkan; untuk kemudian dikeringkan. Perlakuan ini memberikan pelekatan pada benih yang lebih baik.

4. Sterilisasi Bedeng Persemaian
Sterilisasi dengan panas sangat baik tetapi sekarang tersedia banyak zat kimia yang sangat beracun, terutama senyawa-senyawa sianida. Perlu kehati-hatian dalam penggunaannya.


5. Pestisida
Insektisida kimia haruslah menjadi tumpuan akhir dan pemilihannya atas dasar kerusakan minimal terhadap serangga yang tidak berbahaya, penting untuk menghindari evolusi masalah yang lebih serius.

Penggunaan pengendalian hama secara kimiawi ini membawa masalahnya sendiri, terutama berkenaan dengan petugas pelaksanaannyadan resiko terhadap lingkungan. Banyak zat kimia yang merupakan racun, terutama golongan organofosfat dan beberapa dari golongan karbamat yang biasa paling banyak digunakan dalam pengendalian hama.

menanam-tanaman
(Perangkap cahaya/light trap sederhana)

Minggu, 15 Juni 2014

Nematoda Sebagai Hama Pengganggu Tanaman

Selain serangga, Eriopydiae, Tikus, Siput dan Keong, sebagai hama pengganggu tanaman, masih ada jenis hewan lainnya yang juga menjadi hama pengganggu tanaman, yaitu Nematoda.

Nematoda adalah cacing-cacing bulat  yang ramping, biasanya kurang dari 2 mm panjangnya, yang umumnya terdapat dalam tanah.

Di kebun-kebun sayuran, dengan jenis tanaman dari suku Meloidogyne mengandung spesies-spesies hama penting yang menyebabkan bintil-bintil akar yang telah dikenal pada sejumlah jenis tanaman, termasuk kerabat Brassica (kubis-kubisan), yang kadang keliru membedakannya dengan penyakit akar pekuk (clubroot). Suku ini sering terlibat dengan keparahan yang meningkat dari banyak penyakit layu layu dengan mempermudah masuknya patogen seperti Fusarium spp. atau penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) melalui luka-luka makan. Spesies lain seperti Pratulenchus, Rorylenchus, Ditylenchus dan Helycotilenchus terlibat dalam kelemahan tanaman secara umum dan sering tidak diperhatikan meskipun kehilangan hasilnya dapat cukup besar. Perhatian khusus diperlukan terhadap nematoda dalam sistem irigasi. Spesies-spesies seperti Xyphenema, Longidorus, dan Trichodorus adalah vektor-vektor dari beberapa penyakit virus. tetapi mereka berarti penting dalam pertanian sayuran.

Untuk pengendaliannya, fumigan-fumigan tanah umum cukup efektif, meskipun sangat beracun. Berbagai nematisida butiran sekarang tersedia yang kurang berbahaya dalam aplikasinya (Terracur, Nemacur, Vydate, dan Temik). Fitosanitasi dan pergiliran tanaman merupakan kunci-kunci untuk menghindari menimbunnya nematoda yang merusak. Terdapat juga beberapa tanaman penjebak (trap crop) yang berhasil baik dengan cepat dapat menurunkan populasinya, atau dapat juga dengan menambahkan bahan organik pada tanah.

Karena terdapat banyak spesies saprofit dan karena beberapa diantaranya bersifat prasitik tersembunyi dan membahayakan, dianjurkan untuk mengadakan analisis tanah terhadap hama ini, terutama jika pertanaman tidak berhasil tumbuh subur tanpa ada hama atau penyakit yang jelas.

menanam-tanaman
(Nematoda, Hama Pengganggu Tanaman)

Beragam Hama Pengganggu Tanaman

Pada bagian pertama kita telah membahas tentang Serangga, jika anda belum sempat membacanya dapat dibaca kembali disini, maka bagian dua ini kita akan membahas tentang Eriophydiae dan Tikus serta mamalia yang menjadi hama bagi tanaman.

Eriophydiae
Atau disebut juga tungau, mencakup suatu kelompok penting hama sayuran yaitu tungau laba-laba (spider mites). Ukurannya  kecil dan berwarna kekuningan atau merah. Spesies yang paling umum adalah Tetranychus cinnabarius dan Tetranychus urtica. Keduanya adalah spesies yang kosmopolitan dan polifag yang dapat merusak kerabat Cucurbita dan legum. Mereka dapat dikendalikan dengan banyak insektisida, tetapi ada beberapa yang tidak efektif, karena perbedaan fisiologi dari kelompoknya.

Tikus dan Mamalia (Binatang menyusui) lainnya
Hewan-hewan ini dapat menyusahkan jika populasinya terus bertambah. Tikus lorong  (Mole rats atau Tachyorytes splendeus) merupakan hama penting di daerah-daerah tertentu di Afrika yang menimbulkan kerusakan besar terhadap tanama-tanaman umb-umbian; dan mereka juga sulit untuk ditangkap. Untuk spesies yang lain, pemasangan umpan dengan antikoagulan berhasil baik, tetapi dalam keadaan tahan, mungkin harus menggunakan fosfit seng; dan yang disebut akhir ini juga dapat digunakan untuk hama binatang menyusui lainnya, tetapi kurang manusiawi.

Siput dan Keong
Merupakan hama yang tersebar luas di dunia dan pemakan lahap sayuran daun hijau. Bekicot raksasa Afrika (Achatina spp.) dalam jumlah besar dapat menghancurkan dan sekarang tersebar luas di Timur Jauh sejak diintroduksi sebagai makanan enak yang disukai. Karena mereka makan pada malam hari, penggunaan obor yang baik dan seember air panas merupakan pengendalian yang murah (cost effective). Untuk keong-keong yang lebih kecil umpan dan semprotan metaldehid berhasil baik.
menanam-tanaman
(Tikus, salah satu hama tanaman)
Pembahasan tentang nematoda akan dibahas dalam artikel tersendiri pada bagian 3

Hama Pengganggu Tanaman

Hama merupakan penyebab utama kerugian dalam produksi sayuran, baik oleh kerugian langsung maupun penurunan kualitas, selain penyakit tanaman tentunya.Terdapat beberapa golongan umum hama yaitu: Serangga, Eriophydiae, Tikus dan Mamalia, Siput dan Keong serta Nematoda.

Serangga merupakan kelompok dominan dari hama, tetapi tikus, siput, tikus mondok, dan burung semuanya dapat merusak biji, akar dan daun secara langsung. Di beberapa negara, monyet, landak dan babi hutan dapat menyebabkan kerugian besar,m terutama bagi petani yang lahannya berbatasan dengan hutan atau hutan rimba. Jika kerugian ini tidak tertahankan mungkin perlu untuk memburu hama-hama tersebut.

Ada delapan ordo yang paling penting dari serangga, maka pada tulisan ini akan dibahas secara tuntas ordo-ordo yang dimaksud.

1. Orthoptera
Merupakan hama yang mengunyah, dan mencakup belalang, jangkrik (locust), dan orong-orong. Mereka merupakan serangga yang sangat aktif dan dapat sangat mengganggu dalam usaha pertanian yang berdekatan dengan hutan atau padang rumput liar. Orong-orong menerowong di bawah permukaan tanah dan memakan akar-akar tanaman.

2. Isoptera
Rayap adalah contoh dari ordo ini, merupakan endemik di daerah tropika, tetapi biasanya merupakan hama dari bangunan kayu, tonggak pagar, para-para dan sebagainya. Mereka juga menyerang tanaman berkayu terutama tanaman yang lemah.

3. Thysanoptera
Contohnya, trips. Merupakan serangga penusuk dan penghisap kecildengan panjang 1 - 10 mm, dan biasanya kekuningan, coklat atau hitam. Mereka mempunyai sayap, tetapi biasanya berjalan di atas jaringan tanaman. Beberapa sangat aktif dan dikenali dari kebiasaannya membalik ke atas ujung abdomennya. Mereka bertanggungjawab atas penularan banyak virus, termasuk layu bercak daun pada tomat. Trips tembakau (Thrips tabaci) menyerang tanaman bawang merah, Cucurbita dan Crucifera.

4. Hemiptera
Suatu kelompok serangga penghisap dan penusuk, meliputi banyak hama sayuran penting. Ini mencakup:

Serangga bersisik (scale insects) dan kutu putih duduk (melekat) di permukaan tanaman. Mereka dapat seperti sisik, seperti gal, atau dalam hal kutu putih, tertutup oleh lapisan putih seperti lilin. Pengendalian ketiganya akan dipercepat dengan penambahan minyak parafin (white oil) pada insektisidanya. Mereka mempunyai rentang tanaman yang luas dan seringkali karena kurang hati-hati diintroduksi pada bahan tanaman. Mereka juga mengeluarkan embun madu dan dirawat oleh semut, yang lagi-lagi mengarah pada jamur jelaga. Kelompok ini biasanya tidak mengganggu sayuran yang tumbuh cepat, tetapi dapat menyerang yang tumbuh selama lebih dari tiga bulan; mereka lebih berbahaya pada pohon buah-buahan dan tanaman hias yang mengayu.

Kutu daun (aphids), biasanya dikenal para petani sayuran dan terutama pada bagian tunas-tunas muda. dimana mereka menghisap sari tanaman, bahkan beberapa kepik menyerang akar. Kelompok ini mengeluarkan cairan manis yang dikenal sebagai 'honey dew' (embun madu) dan substansi berlilin putih yang melindungi serangga terhadap semprotan. Embun madu menarik semut dan juga merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan berbagai jamur jelaga yang dapat menyebabkan kerugian kualitas yang sangat besar. Kutu (aphids) juga merupakan vektor penting banyak virus; Aphis fabae, misalnya dapat menularkan tiga puluh jenis virus, termasuk mosaik buncis dan mentimun. Mereka pada umumnya dapat dikendalikan dengan insektisida yang ditambah zat pembasah (wetting agent).

Lalat putih, adalah serangga kecil bertabur serbuk lilin putih. Yang paling terkenal adalah Bemisia tabaci yang mempunyai rentang inang yang luas, termasuk kerabat legum, Cruciferae, dan Cucurbita; mereka juga menularkan virus pada buncis dan tomat.

Berbagai kutu tanaman dan kutu perisai merupakan hama aktif sayuran dan pemakan cairan tanaman. Nezara viridula merupakan hama yang tersebar luas pada banyak sayuran tropika. Bahkan beberapa jenis kutu memiliki warna yang cantik.

Wereng (jassids) adalah serangga pemalu yang sering tidak diperhatikan, tetapi beberapa spesies seperti Cicadulina spp merupakan vektor virus garis pada jagung di Afrika dan beberapa bagian Asia. Empoasca lybica menyerang okra, tomat, terong, buncis, dan Cucurbita di beberapa bagian Afrika dan Timur Tengah.

5. Lepidoptera
Ini adalah ngengat dan kupu-kupu yang ulatnya menyebabkan kerusakan berat dengan memakan daun dan menggerek ke dalam buah serta jaringan-jaringan batang. Seperti pada banyak kelompok lain, mereka dapat cepat mendapatkan ketahanan terhadap zat-zat kimia modern, dan yang kemudian merupakan masalah dalam pengendalian. Oleh karena itu, kebersihan merupakan hal yang penting. Sekali hama ini mencapai taraf dewasa, pengendaliannya akan jauh lebih sulit dan buah menjadi rusak sehingga tidak dapat dipasarkan. Kadang-kadang terjadi (outbreaks) perjangkitan epidemik ulat-ulat pemakan daun. Ini cukup mudah dikendalikan pada taraf muda dengan insektisida kontak. Dalam skala kecil, dapat dipertimbangkan untuk memungutnya dengan tangan dan meremas massa telur-telurnya, misalnya pada kupu kubis.

6. Coleoptera
Berbagai kumbang menyerang tanaman baik dalam bentuk dewasa maupun larvanya. Mereka biasanya menggigit jaringan dan seringkali makan pada malam hari. Larvanya dapat menggerek ke dalam jaringan dan daun. Larva kelompok 'cockchafers' (kumbang keabu-abuan), yang merupakan tempayak putih terkenal dengan kerakusan selera makan akar tanaman, mereka sulit untuk dikendalikan.

7. Diptera
 Lalat buncis (Ophiomyia phaseoli), yang belatungnya menyerang leher akar dan tangkai daun buncis, dan berbagai lalat buah (Dacus spp,.) yang menyerang Cucurbita merupakan hama lalat utama pada sayuran. Mereka dapat dikendalikan dengan zat-zat kimia, tetapi kebersihan jauh lebih penting.

8.Hymenoptera
Semut mempengaruhi sayuran terutama karena merawat berbagai Hemiptera, Athalia spp. terkenal sebagai hama Cruciferae di Afrika Timur. Pengendalian dengan penyemprotan sarangnya dengan DDT (tetapi DDT telah dilarang di banyak negara dan bahkan bila penggunaannya diizinkan, harus digunakan sesedikit mungkin).

menanam-tanaman
( Semut dari Ordo Hymenoptera)


Pembahasan tentang Epriophydiae, Tikus dan Mamalia lainnya, serta siput dan keong akan dibahas pada tulisan selanjutnya.





Sabtu, 14 Juni 2014

Mengendalikan penyakit tanaman Dengan cara Kimiawi

Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cara pengendalian penyakit tanaman, setelah sebelumnya kita membahas pengendalian penyakit tanaman dengan cara penggunaan kultivar yang tahan terhadap penyakit

Pengendalian Kimiawi
Aplikasi zat-zat kimia untuk mengendalikan penyakit dan hama merupakan kegiatan yang mahal dan berbahaya. Oleh karena itu, penting bahwa cara-cara  penggunaan yang telah diuraikan pada setiap kemasan diikuti setepa-tepatnya untuk mengurangi kebutuhan akan pengendalian kimiawi. Namun demikian, penggunaan zat kimia sekarang merupakan kegiatan baku dalam produksi sayuran modern. Bahkan dalam beberapa keadaan hal ini mutlak dilakukan.

Fungisida paling umum digunakan sebagai semprotan dedaunan, yang sering harus diulang jika keadaan cuaca mendukung kegiatan patogen yang tinggi. Umumnya dimungkinkan untuk menunggu sampai munculnya gejala-gejala penyakit pertama, terutama karena sekarang banyak tersedia fungisida sistemik. Resiko dengan patogen terbawa udara, seperti bercak basah pada kentang, merupakan hal yang harus selalu dilakukan pemerikasaan harian. Demikian luas rentang zat kimia yang tersedia sehingga nasihat ahli harus diusahakan sebelum memulai suatu program penyemprotan, tetapi fungisida tembaga dan sulfur (belerang) masih tetap murah dan efektif.

Bakteri tidak begitu terpengaruh pengendalian kimiawi seperti jamur. Karena antibiotik tidak diizinkan digunakan pada bagian-bagian tanaman yang dapat dimakan, walaupun mereka dapat digunakan untuk menghilangkan bakteri baik dari biji maupun bahan tanaman vegetatif. Fungisida tembaga cukup efektif terhadap beberapa bakteri pada tomat (Xanthomonas campestris pv. vesicatoria). Penggunaan benih bersih dan higiene yang baik masih merupakan pengendalian patogen bakteri terbaik.

Bagi virus, tidak ada penegendalian kimiawi yang ekonomis. Harus ditekankan bahwa dengan keanekaragaman dan kekhususan banyak fungisida modern, beberapa diantaranya sangat khusus untuk penyakit tertentu., maka diagnosa yang tepat dari penyakit merupakan keharusan. Sebagai contoh, bentale dan senyawa-senyawa sebangsanya, sama sekali tidak efektif terhadap Phycomycetes, yang mencakup embun tepung. Lainnya, seperti triforin, propiconasol dan oksikarboksin, adalah khusus untuk penyakit karat dan atau embun tepung.

menanam-tanaman
pengendalian kimiawi



Jumat, 13 Juni 2014

Penggunaan Kultivar Resisten sebagai pengendali penyakit

Jika sebelumnya kita telah membahas tentang cara pengendalian penyakit tanaman dengan teknik budidaya, maka kali ini kita akan membahas kelanjutan pengendalian penyakit tanaman  cara ke-4, yaitu sebagai berikut:

4. Penggunaan Kultivar yang Resisten (Tahan)
Jika tersedia, penggunaan kultivar resisten memberikan cara yang paling murah dalam pengendalian hama dan penyakit, walaupun terdapat jauh lebih banyak tanaman yang tahan terhadap penyakit daripada tahan terhadap hama.

Pada semua spesies tanaman terdapat varietas-varietas yang menunjukkan suatu rentang ketahanan terhadap berbagai patogen, dan mekanisme ketahanannya banyak bervariasi dan seringkali tidak diketahui pasti. Biasannya mereka ada di bawah pengaruh gentik oleh satu atau banyak gen dan ketahanannya terhadap penyakit layu bakteri yang dimiliki akan hancur (rusak) diterima secara umum bahwa gen utama (vertikal) ketahanan dapat hancur (rusak) dalam jangka waktu pendek, sebagai contoh terhadap penyakit karaat atau bercak basah kentang (potato late blight) (Phytophthora infestans). Ketahanan gen minor horisontal atau lapangan sekarang diakui lebih tahan lama (durable), jika tidak mempunyai tingkat ketahanan yang hampir sama dengan gen mayor (utama). Tetapi ketahanan horisontal, jauh lebih sulit dikenali dan dicirikan dalam program-program pemuliaan.

Faktor-faktor fisologi dan biokimia biasanya terlibat dalam menimbulkan ketahanan; ini mencakup produksi senyawa-senyawa kimia anti jamur dan anti bakteri seperti leukoantosianin, ketegaran tanaman, kepekaan sel terhadap patogen, ketebalan dinding sel, kandungan (sifat) lilin kutikula daun, dan lain-lain.

Karena varietas-varietas lokal (ras lokal - land races) telah lama berkembang dalam asosiasi (bersama) dengan hama dan penyakit dalam sistem pertanian desa, seleksi alam telah mencapai keseimbangan dan epidemi penyakit atau hama yang hebat (serius) tidaklah lazim. Jika kultivar hasil silangan tidak tersedia, atau jika tingkat pengetahuan petani tidak dapat mengikuti masukan yang rumit untuk kultivar-kultivar yang eksotik, kenaikan hasil yang banyak seringkali dapat dicapai melalui perbaikan-perbaikan kecil dalam budidaya, pengendalian gulma, pemberian pupuk minim, dan perlakuan benih, dan sedikit seleksi di dalam populasi tanaman setempat - suatu yang harus dipertimbangkan oleh petugas penelitian dan penyuluhan dalam menganjurkan kultivar-kultivar eksotik secara tergesa-gesa dari sistem di pertanian desa yang berlaku.

Salah satu contoh dalam penggunaan kultivar resisten adalah penggunaan batang bawah yang resisten/tahan untuk penyambungan tomat di atas Solanum torvum, yang memiliki ketahanan mutlak terhadap penyakit layu bakteri di dataran rendah tropika. Teknik ini memungkinkan tomat ditanam sepanjang tahun di Brunei dan dapat diterapkan dimana saja di daerah rendah tropika yang panas; tetapi di musim hujan pengendalian banyak patogen daun lain pada tomat harus sangat teliti.

menanam-tanaman
tomat yang disambung


Teknik Budidaya Sebagai Pengendalian Penyakit Tanaman

Salah satu cara pengendalian penyakit tanaman adalah dengan tindakan budidaya yang telah dijabarkan pada bagian 2 terdahulu, maka pada tulisan ini kita akan melanjutkan penjelasan tentang pengendalian penyakit tanaman dengan cara Teknik Budidaya.

3. Teknik Budidaya
Teknik budidaya mempengaruhi penyakit tanaman dengan beberapa cara. Pada penanaman sayuran dalam pergiliran tanaman, faktor yang paling penting berkenaan dengan penyebaran penyakit dari pertanaman tua ke pertanaman  yang lebih muda. Sebagai contoh adalah penting untuk menempatkan bedengan-bedengan untuk penanaman baru mentimun sejauh mungkin dari pertanaman yang lebih tua agar tidak terjadi penurunan hasil yang signifikan. Penurunan hasil disebabkan oleh infeksi yang progresif (makin meningkat) dari embun tepung. Pengaturan kembali bedengan-bedengan, memisahkan pertanaman baru dari pertanaman lama akan sangat meniadakan masalah embun tepung tersebut.

Penyakit juga dipengaruhi oleh jarak tanaman. Dalam teori, penyakit dapat didorong baik oleh jarak tanam terlalu lebar (membiarkan lebih mudah masuknya patogen) maupun jarak tanam terlalu sempit yang menciptakan lingkungan lebih lembab yang cocok untuk beberapa kelompok patogen tertentu. Di daerah tropika basah, yang akhir terakhir lebih sering terjadi. seperti penyakit busuk daun pada buncis yang disebabkan oleh Thanatephorus cucumeris.

Pengairan berlebihan mendorong penyakit rebah-semai, sedang penyiraman curahan (overhead irrigation) mendorong penyakit daun dan penyebarannya, terutama yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan pipa-pipa pengairan yang kurang hati-hati dapat melempar butir-butir tanah ke atas. menimbulkan luka-lukan sangat kecil yang memungkinkan masuknya berbagai patogen. Inilah sebabnya mengapa mulsa demikian penting dalam budidaya sayuran berjaringan lunak, khususnya yang rentan terhadap penyakit busuk-lunak. Sebagai aturan umum berlaku lebih baik kurang air (underwater) daripada kelebihan air (overwater).

menanam-tanaman
jarak tanam merupakan salah satu contoh teknik budidaya


Budidaya Sebagai Pengendali Penyakit Tanaman

Pada tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang cara pengendalian penyakit tanaman dengan tindakan sanitasi. Selain cara tersebut berikut cara-cara lain yang dapat dilakukan dalam melindungi tanaman dari penyakit.

2. Tindakan Budidaya
 Tindakan budidaya, yang baik atau buruk, mempunyai pengaruh besar pada keadaan penyakit. Banyak faktor yang terlibat yang kebanyakan dapat diubah oleh petani,  berikut uraiannya:

Pergiliran Tanaman
Merupakan tindakan penting, khususnya untuk petani sayuran dengan lahan pertanian sempit dalam pengusahaan yang intensif, dan terutama penting dalam mencegah menimbunnya organisme terbawa tanah, termasuk beberapa hama. Sebagai contoh, penyakit layu bakteri tertimbun dengan cepat jika berturut-turut ditanam tanaman Solanaceae yang rentan. Di lahan rendah tropika, seringkali hal ini mengakibatkan kehilangan seluruh hasil tomat, termasuk beberapa yang diduga tahan penyakit. Menanam spesies tanaman yang tidak rentan seperti kerabat buncis, atau Cucurbita akan cepat mengurangi populasi bakteri, seperti juga pengolahan tanah dan pendedahan terhadap sinar matahari yang kuat. Penggunaan lembaran plastik hitam untuk menimbulkan suhu yang lebih tinggi lagi guna mengendalikan beberapa jamur dapat juga bermanfaat.

Budidaya Bebas Gulma
Kita tidak dapat mengharapkan tanaman akan mewujudkan kemampuan penuhnya dalam persaingan dengan gulma untuk cahaya, air, pupuk dan ruang. Selain itu, penutupan gulma yang tebal membantu mempertahankan kelembaban yang tinggi dengan membatasi gerakan udara, sehingga menciptakan kondisi yang baik bagi perkembangan penyakit.

Kondisi Tanah
Pertanaman apapun akan memberikan hasil terbaik dalam kondisi tanah yang sesuai dalam hal tekstur, air, hara, pH dan sebagainya. Kita tidak dapat mengharapkan hasil yang baik, jika tanaman seperti buncis ditanam dalam kondisi yang lebih sesuai untuk teratai. Kebanyakan sayuran dalam keadaan kelebihan air, rentan terhadap rebah semai dan busuk leher. Oleh karena itu, dalam keadaan basah harus dibuatkan bedengan tinggi atau guludan dengan pengatusan yang cukup.

Kerusakan Tanaman
Karena banyak jasad penyakit dapat masuk melalui luka yang disebabkan alat-alat mekanis atau hama, perhatian utama harus diberikan pada penggunaan alat-alat dan pengamatan maksimal perlu dilakukan terhadap populasi serangga dan Nematoda.

Hara dan Keasaman Tanah
Keadaan hara yang seimbang adalah esensi untuk pertumbuhan tanaman yang sehat dan hasil yang berkualitas tinggi. Pertanaman yang sehat juga akan sulit untuk terkena penyakit dan lebih dapat menahan serangan hama.

Beberapa unsur diperlukan dalam jumlah besar (hara makro) yaitu nitrogen, fosfor dan kalium. Beberapa yang dibutuhkan dalam jumlah lebih kecil (hara sekunder) seperti kalsium, magnesium, sulfur, serta hara mikro yang hanya dalam jumlah kecil dan beberap diantaranya sangat kecil. yaitu besi, mangan, tembaga, boron, molibdenum, seng dan klor. Karbon, oksigen, hidrogen merupakan kebutuhan besar yang mudah tersedia dari udara dan air.
Dalam hubungannya dengan penyakit, kedudukan berbagai unsur itu dapat menjadi penting. Sementara kelebihan nitrogen menghasilkan pertumbuhan subur dan lunak, membuat tanaman lebih rentan, terutama terhadap patogen dedaunan, kekurangan unsur menyebabkan kerugian hasil yang besar.

Salah satu unsur yang berperan penting dalam penetralan asam-asam tanah dan memiliki kemampuan untuk emmperkuat lamela tengah antara dinding-dinding sel adalah kalsium. Banyak penyakit, termasuk layu fusarium dan akar pekuk menjadi lebih buruk pada tanah masam, sehingga pengapuran merupakan bagian penting dari praktek pemupukan yang baik. 
menanam-tanaman
salah satu contoh tindakan budidaya dengan mulsa plastik agar bebas gulma



Cara Pengendalian Penyakit Tanaman Non Kimiawi

Dalam dunia pertanian, hama dan penyakit tanaman merupakan dua hal yang selalu menakutkan bagi petani, mulai dari kerugian yang ditimbulkan sampai kepada cara-cara penyakit tanaman tersebut menyebar. Agar penyakit tanaman tersebut dapat terkendalim, minimal hasil yang diperoleh tidak mengecewakan, maka banyak hal yang dilakukan oleh petani dalam mengurangi kerugian yang dihasilkan oleh penyakit tanaman tersebut. 

Pada dasarnya pengendalian penyakit terbagi dalam dua kategori: cara kimiawi dan non-kimiawi. Hal yang sama juga berlaku untuk hama. Haruslah menjadi catatan penting bahwa organisme penyakit merupakan makhluk hidup dan hanya dapat hidup dengan baik dalam kondisi yang sesuai, seperti kelebihan pemberian air, kelebihan pemupukan dengan pupuk nitrogen (urea) dan terlalu sering dapat merubah status penyakit dari endemik (ada tetapi tidak berat) menjadi epidemik (menyebar dan berat). Karena itu, diperlukan usaha untuk membuat tanaman tumbuh dalam kondisi ideal. Karena ideal tidak selalu mungkin tercapai, maka diperlukan cara-cara dalam pengendalian penyakit tanaman sampai sekecil-kecilnya. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit tanaman. antara lain:

Cara Non-Kimiawi

1. Sanitasi
Dalam pertanian sayuran, selalu baik untuk membuang semua tanaman yang sakit atau rusak karena serangga dan juga sisa-sisa tanaman setelah panen. Ini harus dibakar ditempat lain atau harus dibenamkan dengan baik. Pada pertanaman semusim, pembuangan tanaman pada stadia awal penyakit, disertai dengan penyemprotan bahan kimia secara bijaksana, akan dapat mengendalikan   penyakit. Jika pemangkasan diperlukan, penyemprotan fungisida diperlukan sekali dalam mencegah masuknya patogen sebelum luka tertutup kalus dengan baik.

Suatu faktor  sanitasi yang sangat penting, akan tetapi sering diabaikan adalah penggunaan bahan tanaman yang bersih. Dengan banyaknya penyakit tanaman yang terbawa benih, penggunaan benih yang bersih merupaka keharusan dalam pengendalian yang baik. Petani harus memperoleh benih dari sumber (pemasok) yang dapat diandalkan, lebih baik lagi jika telah diberikan perlakuan fungisida yang cocok. Jika petani menggunakan benih sendiri, perlakuan benih merupakan keharusan sebagai tindakan pengendalian penyakit tanaman yang murah dan efektif. Petani tidak akan dapat mengharapkan hasil pertanaman yang baik dari benih yang 50 persennya terjangkit tanaman. Benih buncis lokal dan Brassica sering kali memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi seperti antraknose (Colletotrichum lindemuthianum) dan Alternaria brassicicola. Penyakit bengkak akar pekuk (clubroot) juga ditularkan pada permukaan benih dan perlakuan benih dengan 'tecnazene' atau 'calomel' sangat dianjurkan.

menanam-tanaman
penyakit bengkak akar pada sawi


Bersambung ke bagian 2