Sabtu, 08 November 2014

Formulasi Pestisida

Bahan aktif pestisida merupakan bahan penyusun penting, suatu formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak di produksi dalam bentuk murni, bahan aktif murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi pestisida, pada tingkat permulaan pestisida dibuat dalam bentuk bahan aktif teknis, bahan ini merupakan campuran bahan aktif murni dan bahan antara lainnya, agar bahan aktif teknis tersebut dapat lebih efektif dan efisien dalam mengendalikan hama sasaran yang tempat hidup dan cara hidupnya bervariasi sebelum dipasarkan bahan aktif teknis tersebut lebih dahulu dicampurkan dengan bahan penguat (sinergis) dan bahan pembantu (ajuvan), bahan-bahan tambahan yang tidak bersifat insektisida tersebut secara umum sering disebut dengan ingredient, pemberian bahan-bahan pembantu dapt meningkatkan adhesi atau pelekatan, pencampuran, tekanan permukaan, persistensi dilingkungan dan sebagai pembawa pestisida.

Sinergis merupakan bahan yang tidak beracun bagi serangga namun bila bahan tersebut dicampurkan dapat menambah toksisitas pestisida, biasanya campuran tersebut berbanding 10:1 atau 8:1 antara sinergis dan insektisida, beberapa sinergis antara lain piperonil butoksid dan MGK 204.

Bahan pembantu atau ajuvan diberikan bermacam-macam antara lain, solven untuk meningkatkat daya larut, diluent sebagai bahan pembawa dan daya penyelimutan, striker untuk meningkatkan daya lekat, surfaktan untuk meningkatkan daya sebar dan pembasahan pada permukaan, dan deodoran untuk memberikan bau harum.

Campuran bahan aktif teknis, sinergis dan bahan pembantu disebut formulasi pestisida, ada banyak produsen pestisida yang membeli bahan aktif teknis dari suatu perusahaan dan menambah dengan bahan-bahan pembantu tertentu yang kemudian dipasarkan sebagai formulasi insektisida dengan nama dagang tertentu, oleh karena itu untuk suatu jenis bahan aktif dipasar terdapat banyak formulasi dengan nama dagang yang berbeda, perbedaan antara beberapa formulasi untuk bahan aktif yang sama dapat disebabkan pada perbedaan dalam susunan bahan tambahan dan bahan pembantu dan juga pada susunan bahan pembentuk bahan aktif teknis, secara umum banyak sekali jenis formulasi pestisida telah dikembangkan untuk kepentingan pemakai dan telah tersedia di pasaran.
menanam-tanaman
(Sumber foto: www.allacronyms.com)

Jenis-jenis formulasi pestisida
1. Formula cair
Susunan formulasi cair adalah bahan aktif, pelarut dan bahan tambahan lain seperti bahan pengemulsi dan bahan perekat.
a. Emulsifiable Concentrate (EC)
EC merupakan formulasi insektisida yang paling banyak dan umum ditemukan, formulasi ini terdiri dari bahan aktif teknis, cairan pelarut untuk bahan aktif dan pengemulsi.
b. Soluble Concentrate in water (SCW) atau water soluble concentrate
Formulasi ini mirip dengan EC teapi jika dicampurkan dengan air tidak akan membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen. Umumnya larutan ini digunakan dengan cara disemprotkan.
c. Aquaeous Solution/Aquaeous Suspension (AS) atau Aquaeous Concentrate (AC)
Merupakan pekatan yang dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasikan dalam bentuk AS/AC umumnya adalah pestisida berbentuk garam yang mempunyai kelarutan yang tinggi dalam air. Digunakan dengan cara disemprotkan.
d. Soluble Liquid (SL)
Pekatan cair yang jika dicampurkan dengan air akan membentuk larutan.
e. Flowable (F) atau Flowable in Water (FW)
Formulasi F atau FW berupa konsentrat cair yang sangat pekat (mirip pasta, tetapi masih dapat dituangkan), jika dicampurkan dengan air F atau FW akan membentuk emulsi (butiran zat padat yang melayang dalam media cair) sama dengan WP, FW adalah WP yang dibasahkan.
f. Ultra Low Volume (ULV)
Sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah yaitu volume semprot antara 1 - 5 liter per ha. ULV umumnya merupakan sediaan siap pakai tanpa harus dicampur lagi dengan air.
g. Aerosol (A)
Merupakan formulasi yang sering digunakan untuk insektisida dalam rumah tangga, di pekarangan atau di rumah kaca. Dalam pembuatannya insektisida terlebih dahulu dilarutkan dalam zat pelarut berupa minyak yang menguap. Larutan ini kemudian diberi tekanan udara dalam kaleng dengan gas propelan seperti karbondioksida atau fluorocarbon.

Jenis formulasi pestisida ini belum lengkap kiranya, tanpa kita ketahui apa saja bentuk pestisida ataupun herbisida yang biasa digunakan untuk tanaman, untuk anda yang ingin mengenal berbagai racun pestisida dan herbisida, silahkan baca artikel ini [Daftar racun herbisida dan pestisida untuk pengendalian gulma pada tanaman sayuran].

Demikian penjelasan kita tentang formulasi pestisida, sampai jumpa di artikel lainnya, salam ...

Kamis, 06 November 2014

Teknik Pembibitan Tanaman Kakao (Thebroma cacao)

Pembibitan
Tanaman coklat dapat dikembangbiakkan dengan cara menggunakan bijinya atau harus disemaikan terlebih dahulu. Tetapi sekarang ini, coklat dapat juga dikembangkan dengan cara okulasi atau menempel, namun tetap harus menggunakan biji yang dibibitkan terlebih dahulu. 

Biji yang dapat dijadikan benih adalah biji-biji dari buah coklat yang tua dan baru saja dipetik, sebaiknya jangan menggunakan benih coklat yang tersimpan lama karena kurang bagus untuk dijadikan benih, serta jangan menggunakan biji yang telah berkecambah saat diambil dari kelopak buah. Setelah buah coklat dibelah, segera keluarkan biji-bijinya dan hilangkan lendir-lendir yang menempel pada biji coklat dengan cara menggunakan abu yang digosok-gosokkan pada biji coklat, gunakan kain lap yang bersih, kemudian cuci dengan air sampai bersih.

Sebaiknya tanah untuk perkecambahan telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan menggunakan bedengan yang terdiri atas campuran antara tanah gembur yang di bagian atasnya telah dilapisi dengan pasir setebal kurang lebih 1 - 15 cm. Gunakan peneduh dengan jarak antara permukaan bedengan dengan peneduh kurang lebih 1,5 m dengan tujuan untuk melindungi bibit dari terpaan sinar matahari yang kuat dan butir-butir air hujan. Atur kemiringan peneduh sehingga air hujan yang mengenai peneduh dapat segera dialirkan ke tanah.

Biji-biji yang telah dibersihkan harus segera ditanam pada bedengan, cara menanamnya adalah mata tunas atau radikelnya harus berada di bagian bawah (jangan sampai terbalik karena bibit tidak akan tumbuh, kalau pun tumbuh akar naik ke atas kemudian berputar ke bagian bawah mencari tanah, dengan kata lain anda menyiksa tanaman). jarak tanam biji jangan terlalu rapat, kemudian tutup biji dengan pasir secukupnya. Lakukan penyiraman pagi dan sore hari setiap hari jika tidak turun hujan, hati-hati saat melakukan penyiraman agar posisi bibit tidak berubah, cara menyiramnya sama dengan cara menyiram bibit cengkeh.

Pada hari ke 12 hampir semua biji telah berkecambah. Dalam keadaan keping buah belum terbuka dan sepasang daun kecil belum terbentuk, pindahkan kecambah pada polybag yang telah disediakan terlebih dahulu, caranya sama dengan pemindahan bibit cengkeh.

Pemeliharaan
Setelah kecambah tumbuh dengan baik pada polybag, lakukan pemeliharaan dengan cara berikut:

1. Melakukan penyiraman pada waktu pagi dan sore hari dengan cara memercikkan air dengan hati-hati. Tetapi jika hujan, tidak perlu dilakukan penyiraman.

2. Setelah kecambah berumur satu minggu dalam polybag, lakukan pemupukan dengan takaran 1 sendok teh ZA untuk setiap bibit (kurang lebih 2 gram), berikan secara melingkar di bagian batang, jarak antara pupuk dengan batang kurang lebih 3 cm, tetapi jika ingin menggunakan pupuk cair buat campuran 25 gr ZA dilarutkan dalam air 20 liter, kemudian berikan 0,5 liter/kecambah, lakukan hati-hati agar jangan mengenai bagian daun dan batangnya.

Tempatkan polybag tersebut dengan teratur di bawah atap bedengan dan lakukan pemupukan seperti dosis di atas satu kali tiap 3 minggu. Pencegahan serangan penyakit dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida, sedangkan untuk pencegahan jamur yang mungkin mengganggu bibit tanaman dapat dicegah dengan menggunakan fungisida (coperoxychloride), jika ada bibit tanaman yang mati karena terserang jamur segera cabut dan bakar agar tidak menyebar ke bibit yang lain.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.indonetwork.co.id)

Selasa, 04 November 2014

Penyakit dan Hama Pengganggu Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica), serta Cara Pengendaliannya

Seperti tanaman lain, tanaman cengkeh juga sering diserang oleh penyakit dan hama pengganggu yang dapat menurunkan produktifitas tanaman cengkeh. Berikut beberapa penyakit dan hama yang sering mengganggu tanaman cengkeh beserta anjuran cara pengendaliannya.

1. Penyakit busuk akar
Penyakit yang disebabkan oleh cendawan seperti Pythium, Rhizoctonia, Phytopthora, ini biasanya menyerang pada masa kritis pertama tanaman cengkeh. Gejala yang nampak adalah daun menguning, layu dan kemudian mengering, dan jika tanaman dicabut akan nampak akarnya yang membusuk. 

Anjuran mengatasi penyakit ini adalah: secara teknis, tanaman dicabut kemudian dibakar agar tidak menyebar ke tanaman lain, sedangkan secara kimia, setelah tanaman yang terserang dicabut dan dibakar, tanaman di sekitar tanaman sakit tersebut disemprot dengan menggunakan Koperoxychloride  0,5% atau setiap 5 gr dilarutkan dengan 1 liter air.

2. Penyakit daun
Cendawan Glorosporium piperantum dan Cylindrocladium auinqeseptatum merupakan penyebab penyakit ini. Penyakit daun muncul pada saat persemaian dan awal tanam, disebabkan oleh karena pelindung tanaman terlalu rapat sehingga kondisi tanaman menjadi lembab. Gejala akibat serangan cendawan Glorosporium piperantum yaitu pada daun-daun tua nampak bercak-bercak berwarna kuning kecoklatan, cendawan ini dapat meluas dengan perantara angin. Sedangkan gejala akibat serangan Cylindrocladium yaitu pada daun terlihat bercak-bercak berwarna merah coklat sedangkan di bagian tengah daun berwarna putih, serangannya sangat cepat dengan merusak pucuk dan tangkai. 

Anjuran dalam mengatasi penyakit ini adalah dengan melakukan penjarangan pelindung persemaian, dan karena penyakit ini dapat terbawa angin kencang maka sebaiknya lakukan penyemprotan dengan menggunakan Koperoxychloride 0,5%.

3. Die back atau mati ranting
Penyebab penyakit ini adalah membusuknya sebagian perakaran tanaman sehingga mengganggu pengambilan zat hara dari dalam tanah. Biasanya penyakit ini terjadi pada tanaman umur 5 tahun ke atas yang telah menghasilkan bunga, terutama pohon yang tumbuh dekat dengan permukaan air. Gejala yang dimunculkan adalah daun pada beberapa cabang berubah warna dari kekuning-kuningan menjadi menguning  dan pada akhirnya akan rontok, diikuti dengan matinya cabang tersebut. Tanaman tetap hidup tetapi sebagian dahannya mati.

Cara mengatasi penyakit ini yaitu karena penyebab penyakit ini adalah faktor fisiologis (keadaan lingkungan), maka sebaiknya tanah di sekitar tajuk tanaman segera digemburkan, di luar tajuk tanaman dibuatkan lubang angin, lakukan pemberian pupuk dengan benar serta lakukan perbaikan drainase di sekitar tanaman.

4. Penyakit mati bujang
Penyebab utama penyakit ini adalah kondisi tanah yang kurang sesuai untuk pertumbuhan cengkeh, fraksi tanah terlalu banyak liat atau dapat juga dikarenakan tanah di lapisan bawah terdapat lapisan padas, selain itu, drainase yang kurang baik sehingga daya serap tanah terhadap air berkurang. Pada musim hujan, tanahnya terlalu lekat sedangkan pada musim kemarau tanah dapat retak-retak. Biasanya kondisi ini muncul setelah masa panen, dimana tanah di sekitar batang tanaman akan menjadi padat dan becek pada saat melakukan panen. Akibat yang ditimbulkan adalah akar tanaman akan mati karena kekurangan oksigen dan pada saat becek akar akan menderita keracunan sehingga penyerapan zat hara dapat dikatakan terhenti.

Gejala penyakit ini dicirikan dengan daun-daun di bagian pucuk layu berwarna hijau suram kemudian berubah menjadi kuning dan akhirnya akan rontok dan tanaman pun segera mati.

Untuk mencegah penyakit ini, dianjurkan untuk memilih tanah yang cocok untuk tanaman cengkeh, lakukan pengolahan tanah pengolahan tanah yang baik serta perlakuan persemaian dan cara penanaman yang tepat.

5. Penyakit ganggang
Penyakit ini disebabkan oleh ganggang Cephaleuros mucoda, serangannya tertuju pada bagian daun, sejak daun-daun muda di persemaian sampai pada waktu tanaman tersebut berumur muda setelah ditanam pada lahan. Gejala yang terlihat adalah pada daun terdapat bercak-bercak kecil berwarna merah, sedangkan di bagian tengah daun terdapat bintik-bintik putih kekuningan. Serangan yang hebat dapat menggugurkan daun sehingga ranting tampak seakan-akan mati. Keadaan ini muncul karena kurangnya peneduh atau dapat juga karena kekurangan zat makanan.

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan memberikan perlindungan atau peneduh yang baik, serta melakukan penyemprotan dengan Koperoxychloride 0,5%. Jika peneduh kurang baik, biasanya pada musim kemarau tanaman akan sangat menderita karena tidak tahan terhadap teriknya sinar matahari, karena itu selain peneduh yang baik lakukan penyiraman dengan baik sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Adapun hama yang sering mengganggu pertumbuhan tanaman cengkeh adalah:
1. Nothopeus hemipterus, Nothopeus fasciati pennis, yang merupakan hama penggerek batang, yang menyerang batang bagian bawah tanaman yang berumur 4 sampai 8 tahun. Biasanya gejala yang tampak adalah adanya lubang gerekan dan kotoran hasil gerekan yang dikeluarkan melalui lubang tadi. Penggereknya berasal dari telur kumbang Nothopeus fasciati pennis yang menetas menjadi larva, pada fase larva inilah hama tersebut melakukan pengrusakan batang tanaman, yang pada akhirnya larva ini akan menjadi kumbang remaja. Untuk memberantas larva tersebut dianjurkan untuk melakukan pembersihan telur-telur kumbang dari tanaman, kemudian lubang gerekan ditutup rapat dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan insektisida.

2. Kutu-kutu daun yang terlihat pada tangkai daun tanaman yang masih muda tampak memutih. Hama ini berbahaya bagi pertumbuhan tanaman karena dapat menghisap cairan tanaman pada daun-daun yang ditempatinya, kadang-kadang dapat juga muncul gejala pada daun bagian bawah berwarna hitam (jelaga). Serangan ini dapat melayukan daun muda serta tangkai yang diserangnya karena menghambat proses asimilasi daun. Munculnya kutu-kutu daun tersebut sering juga diikuti dengan munculnya semut, karena cairan yang dihisap oleh kutu daun mengeluarkan cairan yang manis. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan medol 0,5% atau endrin 1%.

3. Rayap, juga sering mengganggu tanaman cengkeh dengan menyerang akar-akar tanaman, biasanya akan menyerang bibit yang baru saja dipindahkan ke lahan, untuk mengatasi pengganggu ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida .

4. Tupai, di beberapa daerah tupai juga dapat menjadi hama bagi tanaman cengkeh, tupai memakan kulit dan batang tanaman. Cara memberantasnya adalah dengan melakukan pemburuan menggunakan senapan angin, atau dapat juga diberantas dengan memasang perangkap yang telah diracuni.

menanam-tanaman
Gambar Larva Penggerek Batang Cengkeh
(Sumber foto: tugaspertanian.blogspot.com)

Daun Sirih Pestisida Organik Tanaman Hidroponik

Tanaman hidroponik memerlukan perlakuan khusus, jika bisa kita ibaratkan tanaman hidroponik merupakan jenis perlakuan manja dibanding tanaman yang langsung ditanam di permukaan tanah, selain menjaga kadar air yang terdapat dalam media tanam hidroponik menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit juga penting dilakukan.

Aneka pestisida nabati dikembangkan oleh para pakar tanaman, selain daun sirsak sebagai pestisida nabati juga bisa di buat dengan menggunakan daun sirih.

Daun sirih selain bermanfaat dalam dunia medis untuk berbagai pengobatan, juga bermanfaat untuk mengusir hama pengganggu tanaman terutama untuk jenis serangga hama penghisap, secara kimia daun sirih mengandung senyawa Flavonoid, Polivenol, alkoloid, tanin, minyak astsiri, saponin, hidroksikaficol, kavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvokrol, eugenol, P-cymene, cineole, coryofelen, kadimen, ekstragol, terpenana, dan fenil propoda. 

Serangga penghisap yang kebanyakan menyerang tanaman hidropnik khususnya untuk jenis tanaman horti adalah ; kutu daun aphid, trhips, sebagai contoh kita bisa melihat pada tanaman cabai, di balik daun cabai biasanya jenis hama tersebut paling banyak menyerang, serangan tersebut biasanya terjadi dari sore menjelang senja dan malam hari.

Mengingat aktifnya serangga penghisap tersebut pemberian pestisida nabati khususnya pestisida nabti dari daun sirih bisa dilakukan pada waktu sore dan pagi hari pada tanaman hidroponik kesayangan anda.

Mengapa daun sirih?
Kandungan senyawa Flavanoid, tanin, dan minyak atsiri pada daun sirih dapat menimbulkan bau dan rasa pahit bagi serangga, dengan demikian daun sirih sangat baik digunakan untuk mengusir serangga hama jenis penghisap tersebut.

Cara sederhana membuat pestisida nabati dari daun sirih.
1. Siapkan daun sirih sebanyak dua puluh lembar (sesuaikan dengan kebutuhan anda)
2. Tumbuk halus daun sirih.
3. Rendam hasil tumbukan daun sirih kedalam air hangat
4. Diamkan selam lebih kurang sepuluh menit
5. Saring, sisa penyaringan bisa juga di taburkan di sekitar polybag tanaman sebagai pupk nabati
6. Simpan di dalam botol atau jeriken (Untuk kebutuhan lama)
7. Ekstark daun sirih siap digunakan.

Cara pemakaian pestisida nabati daun sirih untuk tanaman hidroponik
1. Tuangkan ekstrak daun sirih kedalam spayer
2. Semprot ekstrak daun kebagian bawah lamina daun tanaman hidroponik anda.

Demikian cara pembuatan pestisida nabati menggunakan Daun sirih sebagai pestisida organik untuk tanaman hidroponik, kegiatan pembuatan pestisida nabati daun sirih diatas sudah saya coba pada tanaman cabai hidroponik di belakang rumah, sejauh ini bisa saya simpulkan dengan pemberian rutin dan teratur tanaman cabai hodropnik saya tumbuh baik dan subur, Alhamdulillah hingga saat ini saya tidak satupun menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia untuk menjaga kesuburan tanaman cabai hidroponik saya.

Jika anda punya pertanyaan seputar pembahasan kita kali ini silahkan tulis di kolom komentar, terima kasih atas kunjungan anda, selamat bertanam hidroponik. 

Budidaya Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Seperti yang telah dijelaskan di artikel sebelumnya, tanaman cengkeh harus terlebih dahulu dibibitkan sampai berumur 1 tahun atau lebih. Setelah bibit cengkeh berumur 1 tahun, maka sebainya segera lakukan persiapan pemindahan bibit lahan, berikut hala-hal yang harus diperhatikan saat pemindahannya sampai pada perawatan tanamannya.

A. Pemindahan bibit tanaman ke lahan yang dikehendaki
Jika ingin memanfaatkan lahan pekarangan untuk bertanam cengkeh, maka segera buat lubang-lubang tanam dengan ukuran lebar dan dalam 80 cm dengan jarak antar lubang 8 m, kemudian biarkan lubang-lubang tersebut selama 2 sampai 3 bulan. Selanjutnya, 15 sampai 30 hari sebelum bibit ditanam tutuplah lubang-lubang tersebut dengan menggunakan tanah-tanah lapisan atas yang digali dari sekitar lubang. Kemudian jika tiba masa tanam, galilah lubang tadi secukupnya sesuai dengan ukuran tanah pada polybag yang berisi bibit. Sobek dengan hati-hati polybagnya, sebaiknya gunakan pisau yang tajam agar bibit tidak banyak tergoncang. Tanamlah bibit tersebut beserta tanahnya ke dalam lubang tadi, usahakan bibit tersebut tegak dan stabil. Sebaiknya penanaman bibit dilakukan menjelang bulan Desember di mana hujan telah mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. 

Jika ingin bertanam cengkeh pada lahan yang lebih luas misalnya 1 ha atau lebih, perlakuan-perlakuannya sama seperti di atas, tetapi ada beberapa persyaratan-persyaratan penting yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Jarak antar tanaman sebaiknya 8 m ke segala arah, jarak yang lebar ini penting untuk pertumbuhan tanaman kelak, serta untuk pembuatan rorak atau selokan-selokan kecil di antara tanaman, agar air tidak tergenang di sekitar tanaman yang baru ditanam, sedangkan jika ditanam pada lahan yang memiliki kemiringan perlu dibuatkan terasering atau sengkedan untuk menghambat laju erosi.

2. Buatkan peneduh untuk tanaman yang baru ditanam tersebut untuk mengurangi teriknya sinar matahari dan terpaan butiran air hujan, sampai pertumbuhan bibit tersebut mulai stabil.

3. Antar barisan tanaman, sebaiknya ditanami tanaman pupuk hijau atau tanaman leguminosa atau kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang tunggak atau jagung, asalkan jangan menanam tanaman ubi kayu.

4. 2 minggu atau lebih setelah penanaman, periksa apakah ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang stabil, jika ada segera lakukan penyulaman atau mengganti tanaman tersebut dengan bibit yang baru, karena itu penting untuk menyiapkan tanaman pengganti.

B. Penyiraman
Jika penanaman dilakukan di areal yang luas dan air hujan yang turun dalam jumlah sedikit, sebainya penyiraman dilakukan pada sore hari sekitar pukul 15.30 dengan menggunakan sprinkle watering (penyiraman pancaran), karena jika menyiram satu per satu akan memakan waktu lama dan tenaga banyak.

C. Pemeliharaan
Gemburkan tanah yang berada di sekitar batang tanaman dengan jarak 1 m, tapi lakukan dengan hati-hati agar tidak memperngaruhi akar tanaman yang baru berkembang dan lakukan pembersihan rumput yang tumbuh di sekitar tanaman.

D. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu saat menjelang musim hujan dan menjelang akhir musim hujan atau menjelang musim kemarau. Cara pemupukannya adalah dengan membenamkan pupuk ke dalam tanah di sekitar batang tanaman, agar saat hujan pupuk yang telah diberikan tidak terbawa oleh aliran air hujan. Adapun dosis anjuran untuk pemupukannya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pupuk dasar, yaitu saat menutup lubang-lubang tanam seperti yang dijelaskan di atas, (15 sampai 30 hari sebelum penanaman), jika menggunakan pupuk organik dosisnya sekitar 30 kg per lubang yang dicampurkan secara merata dengan tanah yang akan digunakan sebagai penutup, kemudian dimasukkan ke dalam lubang . Jika menggunakan pupuk kimia, dosis yang digunakan adalah sekitar 70 kg NPK per lubang yang dicampur merata dengan tanah penutup.

2. Sebagai pupuk pemeliharaan (pemupukan yang dilakukan 2 kali setahun), dosis yang digunakan adalah untuk setiap pohon sekitar 100 gr sampai 500 gr NPK (ZA, urea, DS, TS dan ZK), yang harus dibenamkan di sekitar tajuk tanaman, atau selurusan dengan tajuk terluar tanaman).

Pemupukan boleh tidak dilakukan jika menginginkan tanaman cengkeh membutuhkan waktu lama untuk berbunga, artinya tanaman cengkeh yang tidak diberikan pupuk akan berbunga setelah berumur 6 tahun, dan jika dilakukan pemupukan cengkeh akan berbunga pada umur 3,5 tahun.

Sebaiknya dilakukan penyemprotan dengan BB 1 - 2% agar tanaman cengkeh tahan terhadap hama dan penyakit.

E. Masa kritis dalam pertumbuhan
Masa kritis pertama biasanya dialami setelah tanaman berumur 1 hingga 3 tahun, hal dipengaruhi oleh kelembaban. Oleh karena itu, pemeliharaan harus menjadi prioritas utama, jika masa kritis tersebut telah dilalui maka tanaman cengkeh akan tumbuh dengan subur, normal, dan pertumbuhannya menjadi pesat.

Masa kritis kedua yang dialami oleh tanaman cengkeh adalah setelah berumur antara 8 sampai 12 tahun, ada juga yang sampai 20 tahun, yaitu setelah berbuah lebat, daun-daunnya akan berguguran, waluapun demikian kemampuan berbunganya akan tetap baik, jika masa kritis tersebut telah lewat maka tanaman cengkeh akan tumbuh dengan normal hingga berumur 100 tahunan.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.thefloweringgarden.com)


Senin, 03 November 2014

Khasiat Jambu Biji

Cuaca saat ini yang tidak menentu berpengaruh buruk pada kesehatan kita. Hujan deras mengguyur bumi tercinta setiap hari, selain berdampak positif hujan juga memberikan dampak negatif pada tubuh kita. Genangan air yang ada di sana sini menjadi sarang bagi jentik-jentik dan kuman penyakit. Dari Demam Berdarah sampai diare banyak kita jumpai akhir-akhir ini, semua itu banyak berawal dari seringnya turun hujan dan kondisi cuaca yang kurang menentu.

Salah satu yang di untungkan adalah para petani jambu biji merah / jambu biji biasa yang terkenal bermanfaat menyembuhkan beberapa macam penyakit. Jambu biji alias jambu kelutuk sendiri memiliki banyak manfaat mulai dari buah, daun hingga batangnya. Melonjaknya komoditas Jambu Biji ini di sebabkan kepercayaan orang-orang yang timbul dari omongan mulut kemulut bahwa jambu ini bisa menyembuhkan penyakit demam berdarah.

Menurut berbagai sumber ekstrak daun dan buah Jambu Biji dapat berguna untuk menyembuhkan penyakit demam berdarah. Rebusan daun dan sari buahnya pun dapat berguna untuk meningkatkan jumlah Trombosit, sehingga sangat dibutuhkan oleh tubuh.Para penderita yang sudah positif DBD setelah mengkonsumsi ekstrak buah ini sekitar 500cc dalam sehari dapat meningkatkan pertumbuhan trombosit dalam tempo 8 sampai 48 jam. Menurut penelitian rebusan daun jambu biji juga dapat mencegah perkembangan dari virus DBD ini.
Komposisi : KANDUNGAN KIMIA : Buah, daun dan kulit batang pohon jambu biji mengandung tanin, sedang pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun jambu biji juga mengandung zat lain kecuali tanin, seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Kandungan buah jambu biji (100 gr) � Kalori 49 kal � Vitamin A 25 SI � Vitamin B1 0,02 mg � Vitamin C 87 mg � Kalsium 14 mg � Hidrat Arang 12,2 gram � Fosfor 28 mg � Besi 1,1 mg � Protein 0,9 mg � Lemak 0,3 gram � Air 86 gram

Penyakit Yang Dapat Diobati : Diabetes melitus, Maag, Diare (sakit perut), Masuk angin, Beser; Prolapsisani, Sariawan, Sakit Kulit, Luka baru;
Pemanfaatan :
1. Diabetes Mellitus Bahan: 1 buah jambu biji setengah masak Cara membuat: buah jambu biji dibelah menjadi empat bagian dan direbus dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari, pagi dan sore
2. Maag Bahan: 8 lembar daun jambu biji yang masih segar. Cara membuat: direbus dengan 1,5 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: diminum 3 kali sehari, pagi, siang dan sore.
3. Sakit Perut (Diare dan Mencret) Bahan: 5 lembar daun jambu biji, 1 potong akar, kulit dan batangnya Cara membuat: direbus dengan 1,5 liter air sampai mendidih kemudian disaring untuk diambil airnya Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari pagi dan sore.
4. Sakit Perut atau Diare pada bayi yang masih menyusui Bahan: jambu biji yang masih muda dan garam secukupnya. Cara menggunakan: dikunyah oleh ibu yang menyusui bayi tersebut, airnya ditelan dan ampasnya dibuang.
5. Masuk Angin Bahan: 10 lembar daun jambu biji yang masih muda, 1 butir cabai merah, 3 mata buah asam, 1 potong gula kelapa, garam secukupnya Cara membuat: semua bahan tersebut direbus bersama dengan 1 liter air sampai mendidih kemudian disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari.
6. Beser (sering kencing) berlebihan Bahan: 1 genggam daun jambu biji yang masih muda, 3 sendok bubuk beras yang digoreng tanpa minyak (sangan = Jawa). Cara membuat: kedua bahan tersebut direbus bersama dengan 2,5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas kemudian disaring. Cara menggunakan: diminum tiap 3 jam sekali 3 sendok makan.
7. Prolapsisani Bahan: 1 genggam daun jambu biji, 1 potong kulit batang jambu biji. Cara membuat: direbus bersama dengan 2 gelas air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: air ramuan tersebut dalam keadaan masih hangat dipakai untuk mengompres selaput lendir poros usus (pusar) pada bayi.
8. Sariawan Bahan: 1 genggam daun jambu biji, 1 potong kulit batang jambu biji. Cara membuat: direbus bersama dengan 2 gelas air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari.
9. Sakit Kulit Bahan: 1 genggam daun jambu biji yang masih muda, 7 kuntum bunga jambu biji. Cara membuat: ditumbuk bersama-sama sampai halus Cara menggunakan: untuk menggosok bagian kulit yang sakit.
10. Obat luka Bahan: 3 pucuk daun jambu biji. Cara membuat: dikunyah sampai lembut Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian tubuh yang luka agar tidak mengelurkan darah terus menerus.

Mengingat banyaknya  manfaat jambu biji tidak ada salahnya anda, mulai sekarang memperhatikan dan merawat pohon jambu yang tumbuh disekitar perkarangan anda. Pembahasan tentang khasiat jambu biji lainnya akan kita bahas dikesempatan berikutnya, semoga bermanfaat.

Rabu, 29 Oktober 2014

Kultur Teknik, Cara Penyemaian Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu pertanaman cengkeh adalah dimulai dari cara melakukan pembibitan atau penyemaian sampai pada pemeliharaan tanaman cengkeh yang telah berproduksi. Penyemaian yang baik dimulai dari proses pemilihan biji yang baik, pembuatan tempat penyemaian hingga perawatannya. Dibutuhkan ketelatenan dalam proses penanaman serta perawatannya, agar tanaman cengkeh menghasilkan bunga seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, perlulah kiranya para petani atau siapa pun yang berkepentingan dalam urusan cengkeh memperhatikan hal-hal berikut.

A. Pemilihan biji untuk pembibitan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih biji yang akan dijadikan bibit adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah biji dari pohon induk yang telah berumur 14 tahun ke atas, yang memiliki tingkat produksi yang tinggi, kualitas dan kuantitasnya baik, subur serta tahan terhadap hama dan penyakit tanaman.
2. Biji yang diambil adalah yang berwarna kuning muda, kondisinya mulus, jangan mengambil biji yang berbercak kehitaman.
3. Ukuran biji harus normal, jangan terlalu kecil atau terlalu besar.
4. Biji berisi atau padat, cara mengetahuinya adalah dengan merendam biji yang telah dikupas ke dalam baskom yang berisi air, biji yang tenggelam ke dasar baskom itulah yang digunakan, biji yang mengapung kurang baik untuk dijadikan bibit.

B. Pembuatan penyemaian
Hal yang harus diperhatikan dalam membuat tempat penyemaian adalah tanah yang digunakan serta kondisi lokasi yang harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman cengkeh adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah tanah yang gembur dan subur karena mengnadung banyak unsur hara sebagai bahan makanan tanaman, jangan menggunakan tanah yang mengandung batuan dan tanah liat karena akan menghalangi pertumbuhan akar tanaman.
2. Kontur tanah sebaiknya yang agak miring (tapi jangan terlalu miring) agar memudahkan pembuangan air hujan yang berlebihan dan menghadap ke arah timur.
3. Berikan peneduh yang akan berfungsi untuk menahan jatuhnya butir-butir hujan yang terlalu besar, mencegah sinar matahari yang terlalu terik, serta penahan tiupan angin yang terlalu kencang.
4. Sebaiknya lokasi penyemaian dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah agar memudahkan dalam pengawasannya, serta sebaiknya dibuat berpencar untuk memudahkan penyebaran bibit nantinya.

C. Penyemaian
Biji tanaman cengkeh tidak dapat ditanam langsung ke tanah atau lahan, terlebih dahulu harus dilakukan penyemaian untuk menumbuhkan kecambahnya setelah itu dilakukan penyemaian tetap. Dalam penyemaian tetap ini, ada dua hal yang biasanya dapat dilakukan yaitu penyemaian tetap secara langsung dan tidak langsung, yang dimaksudkan dengan langsung disini adalah, bibit yang telah berkecambah pada bak perkecambahan dibuatkan bedengan, kemudian bibit tersebut dicabut dan dipindahkan ke penyemaian tetap. Sedangkan cara tidak langsung adalah dengan memindahkan kecambah-kecambah tersebut ke dalam polybag yang kemudian dipelihara sampai berumur kurang lebih satu tahun. Namun, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penyemaian secara tidak langsung.

Dalam menumbuhkan perkecambahan tanaman cengkeh harus dilakukan beberapa persiapan, yaitu:
1. Siapkan bak-bak perkecambahan yang dibuat dari peti kayu atau bahan lain yang tahan, panjang dan lebarnya sesuai dengan kebutuhan, asalkan dapat menampung campuran pasir dan gambut setebal kurang lebih 30 cm dari dasar bak, dengan perbandingan 3 : 1.
2. Biji yang telah siap tanam harus segera ditanam dalam lubang-lubang pasir dengan jarak 3 x 5 cm atau 5 x 5 cm. Perhatikan saat menanam biji, upayakan jangan sampai terbalik karena akan menyusahkan bibit cengkeh.
3. Jagalah kelembaban bak perkecambahannya karena itu gunakan naungan tetapi jangan terlalu rapat.
4. Jangan melakukan penyiraman langsung pada biji agar posisi biji tidak berubah, karena lakukan dengan cara dipercik-percikkan sampai basah. Ada baiknya menggunakan jerami atau karung goni, karena air yang disiramkan akan terlebih dahulu membasahi jerami atau karung goni yang nantinya akan diteruskan ke permukaan pasir dimana niji ditanam.

Penyemaian tetap secara tidak langsung
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Gunakan polybag yang agak tebal dengan lebar sekitar 15 - 20 cm, dan tinggi 20 - 25 cm. Isilah polybag dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk organik perbandingan 2 : 1, dan jangan dipadatkan.
2. Tanamlah kecambah pada polybag tersebut, usahakan penanamannya ditengah-tengah polybag. Kemudian susun polybag tersebut ke dalam bedengan dengan jarak antar polybag 30 x 30 cm atau 30 x 40 cm.

D. Pemeliharaan penyemaian
1. Penyiraman dilakukan jika hari tidak hujan, lakukan saat pagi dan sore hari, jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan penyakit Gloe sporium. Jika bibit telah besar, penyiraman sebaiknya dikurangi.
2. Lakukan penggemburan tanah di sekitar batang tanaman, dan sebaiknya berhati-hati agar tidak merusak akar tanaman.
3. Peneduh atau atap penutup bedengan jangan terlalu rapat karena akan lembab sehingga jamur akan lebih mudah tumbuh, dan jangan pula terlalu jarang karena sinar matahari yang terik akan membakar daun-daun muda. Jika tanaman telah berumur 2 bulan, sebaiknya lakukan penjarangan atap pelindung secara bertahap, untuk melatih bibit tanaman sehingga tahan terhadap penyinaran.
4. Jangan sampai air hujan tergenang di sekitar bedengan untuk mencegah kebusukan. Dan jagalah kebersihan sekitar bedengan dari rumput dan segala macam kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhan bibit tanaman.
5. Lakukan pemupukan jika tanaman telah berumur sekitar 3 - 4 bulan, gunakan pupuk yang mengandung NPK 1:1:1, tiap bibit diberikan dosis kurang lebih 1 gram, jika agak merepotkan gunakan takaran berikut: takar pupuk dengan menggunakan gelas plastik bekas aqua sebanyak 1 gelas dan air sebanyak 1 tangki penyemprotan. Jika hanya menggunakan pupuk urea saja gunakan takaran 0,5 gram/bibit. Pemupukan kedua dilakukan saat bibit berumur 8 bulan dengan dosis NPK 2 gram/bibit atau jika menggunakan urea 1 gram/bibit.

menanam-tanaman
(Sumber foto: udtunasmudasejahtera.indonetwork.co.id)