Tampilkan postingan dengan label pupuk organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pupuk organik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2016

Cara Membuat Pupuk Organik Cair Melalui Proses Kompos

Secara Umum terdapat dua macam tipe pupuk organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk.

Pupuk cair tipe ini suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
 
Kedua adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air. Tulisan ini bermaksud untuk membahas pupuk organik cair tipe yang kedua.
Sifat dan karakteristik pupuk organik cair

Pupuk organik cair tidak bisa dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang. Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.

Jenis pupuk cair lebih efektif dan efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.

Pemberian pupuk organik cair lewat daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan penyakit pada tanaman. Jadi, ketepatan takaran harus benar-benar diperhatikan untuk mendapatkan hasil maksimal.

Setiap tanaman mempunyai kapasitas dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya. Secara teoritik, tanaman hanya sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak lebih dari 2% per hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk organik cair pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.

Karena sifatnya sebagai pupuk tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.

Cara membuat pupuk organik cair

Siapkan bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg hijauan (jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.
Siapkan tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik bekas akua ukuran 1 liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.

Potong atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.
Larutkan bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata. Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
 

Tutup tong dengan rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.

Pastikan benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong.

Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.

Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain. Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.

Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.

Cara membuat pupuk organik cair perangsang daunn dan buah

Secara sederhana bisa dikatakan, untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan.

 
* Sumber : e-Petani

Sabtu, 03 Oktober 2015

Cara Membuat Kayu Lapuk Menjadi Pupuk Organik


Cara Membuat Kayu Lapuk Menjadi Pupuk Organik

Memanfaatkan alam guna melepas ketergantungan dari pupuk berbahan kimia memang sedikit rumit, banyak alasan yang tidak mendukung untuk bertani dengan konsep memanfaatkan alam, salah satu diantaranya adalah karena bertanam dengan proses Instan, oleh karena itu bertani dengan memanfaatkan alam menjadi tidak popular dikalangan petani, padahal lebih banyak manfaat yang bisa kita dapati manakala bertani dengan cara memanfaatkan sumber daya alam sekitar.

Pada beberapa artikel terdahulu juga sudah banyak kita membahas tentang pemanfaatan alam dalam berbudidaya pertanian, seperti memanfaatkan sisa limbah rumah tangga, membuat KCL dari teknik yang Paling sederhana, membuat perangkap untuk serangga. Salah satu yang InsyaAllah kita bahas kali ini adalah tentang pemanfaatan pelapukan tanaman untuk tanaman itu sendiri yaitu kayu lapuk.

Kayu lapuk biasanya menjadi sampah pembakaran saja, padahal kayu lapuk ini bisa dimanfaatkan untuk bahan pupuk alami tanaman, karena didalam kayu lapuk terdapat unsure organic yang sangat besar manfaatnya bagi perkembangan nutrisi tanah, jika selama ini kebanyakan kayu lapuk hanya dijadikan sebagai bahan dasar bangunan, maka tidak ada salahnya anda mencoba memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Didalam disiplin ilmu bumi, Para ahli ilmu bumi berpendapat bahwa unsure nitrogen di bumi ini tidak pernah berlebih dan berkurang, semenjak bumi di bentangkan unsure nitrogennya selalu berjumlah sama sampai detik ini, karena itu salah satu yang kita manfaatkan dari kayu lapuk untuk pertumbuhan tanaman adalah dengan mengambil unsure nitrogen yang terkandung didalam kayu lapuk tersebut.

Unsur kimia pada kayu lapuk yang bermanfaat bagi tanaman

Pada sebatang kayu lapuk biasanya terdapat kandungan nitrogen sebanyak 0,04% sampai 0,10 %, hydrogen sebanyak 6%, abu sebanyak 0,20 sampai 0,50, hemiselulosa sebanyak 15 sampai 25 %, semua kandungan kimia kayu tersebut, baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Cara pemanfaatan kayu lapuk untuk pupuk tanah dan tanaman.

Untuk menjadikan kayu lapuk sebagai pupuk tanah, ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan.

1. Kayu lapuk dicincang halus.

2. Siapkan tanah jenis alfisol, tujuannya untuk sebagai perekat pada tanah yang akan kita jadikan pupuk, kenapa tanah alfisol karena jenis tanah ini tidak banyak mengandung unsure liat.

3. Setelah tanah dicincang halus, campurkan dengan tanah alfisol, kemudian endapkan didalam karung.

4. Setelah tanah diendapkan siapkan air kelapa (satu buah kelapa) atau air sisa pencucian beras, sebaiknya kedua jenis air tadi dicampurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

5. Air kelapa yang sudah dicampur dengan air bekas cucian beras, disiramkan kedalam campuran kayu lapuk dengan tanah alfisol, sebaiknya campuran kayu lapuk dan tanah tersebut diendapkan selama lebih kurang satu bulan, semakin lama diendapkan akan semakin bagus hasilnya.

Pemberian campuran air kelapa dan air bekas cucian beras pada endapan kayu lapuk, bisa dilakukan setiap hari, selama satu atau dua bulan masa endapan, kegiatan pengendapan ini kayu lapuk dan tanah ini bermaksud untuk mengurai senyawa-senyawa selulosan, lignin, dan hydrogen menjadi senyawa organic yang baik untuk tanah dan tanaman.
Kegiatan pembuatan pupuk dari kayu lapuk diatas sudah saya lakukan, dan dipergunakan untuk bahan dasar tanah pada tanaman cabai polibeg, hingga pengalaman ini saya tulis pertanaman cabai saya tumbuh dengan subur dan sehat, juga tahan terhadap penyakit virus yang disebabkan oleh serangga vector Bemicia Tabacci (kutu kebul).

Selain bagus untuk pupuk tanaman palawija dan hortikultura, pupuk alami dari kayu lapuk ini juga bagus digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman bunga, silahkan dicoba.

*sumber : 

- Wikipedia
- www.academia.edu � �Summary the material of wood�, uploaded by � S.Lumonon
- foto : member of kompas musafir group.



Selasa, 28 Juli 2015

Beralih ke Usaha Pertanian Organik

Eri demikian nama lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai petani cabe di Sungai Kambuik, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Ia sudah menghabiskan dana lima puluh jutaan agar areal seperempat hektar yang ia jadikan tempat bertanam cabe, bisa tumbuh dengan baik dan berbuah lebat, namun nasib berkata lain, ditengah perjalanannya areal pertanaman cabenya diserang berbagai penyakit dan hama, salah satunya penyakit virus kuning keriting dan Antraknosa.

Tim P3L-Dharmasraya berkunjung ke kebun Eri pada awal puasa Ramadhan Juni lalu, ia putus asa melihat areal perkebunan cabenya sudah tidak punya harapan lagi, ditengah kemelut yang mendera hatinya, tim P3L-Dharmasraya mencoba memberikan solusi terkait penyakit yang diderita tanaman cabenya.

Sebagaimana tujuan utama dari pejuang P3L-Dharmasraya yakni, usaha menciptakan pertanian organic, ramah lingkungan, dan memproduksi hasil tani yang sehat untuk dikonsumsi keluarga, tanpa ketergantungan kepada produk kimia, serta mempersiapkan lahan tanah yang baik untuk keberlangsungan anak cucu, kami menawarkan solusi yang kiranya baik untuk menyelamatkan cabe Eri yang sudah diserang berbagai penyakit tersebut.

Pada akhirnya dalam situasi yang sangat genting tersebut, kami menawarkan biang bakteri organic yang baik untuk mengatasi berbagai penyakit tersebut, biang bakteri itu terangkum dalam botol pupuk cair �Bio � Organik Herbafarm�, akhirnya Eri mencoba menyelamatkan tanaman cabenya dengan 2 botol pupuk cair herbafarm. 

Pada hari lebaran ketiga tepatnya hari selasa tanggal 21 Juli 2015, salah seorang tim P3L-Dharmasraya kembali memantau perkembangan cabe yang sudah diperlakukan Eri dengan pupuk cair Herbafarm tersebut, diluar dugaan setibanya tim di lokasi areal pertanaman cabe Eri terlihat buah cabe yang tumbuh lebat, meski daun terlihat kuning keritiang, usaha penyelamatan oleh herbafarm ini masih sanggup membantu cabe untuk berbuah lebat. 

Aher salah seorang Karyawan Eri kepada tim P3L-Dharmasraya, dilokasi mengatakan ia sudah berkali panen dengan situasi pertanaman yang demikian.

Ambo kira cabe ini hanya sekali saja berbuahnya, namun uda bisa lihat sendiri batang cabe itu berbunga lagi, dan kami sudah berkali-kali panen setelah pemberian pupuk cair Herbafarm ini�, katanya bersemangat.

Setelah mengamati dan mencatat perkembangan cabe Eri, tim kembali ke posko P3L di Sitiung, sebelum pulang Aher membeli tiga botol lagi pupuk cair Bio-Organik Herbafarm, ia juga berjanji pada periode berikutnya ia dan Eri akan kembali bertanam cabe dengan metode hidroponik, dan meminta kami (P3L-Dharmasraya) untuk mendampingi hingga panen.

Beralih ke Usaha Pertanian Organik
(Foto : Aher ditengah tanaman cabenya yang terserang berbagai penyakit Virus, namun masih berbuah lebat, berkat pemberian pupuk cair Bio-Organik Herbafarm yang ramah lingkungan)

Jumat, 29 Mei 2015

Memperbaiki tanah dengan Pupuk Organik

English: Electron shell diagram for nitrogen, ...
English: Electron shell diagram for nitrogen, the 7th element in the periodic table of elements. (Photo credit: Wikipedia)
Untuk memperoleh hasil pertanian yang tinggi, tanah haruslah berstruktur baik dan dapat menerima air dan hujan tanpa mengerak, tererosi atau longsor. Tanah ini harus dapat menahan lengas pada tingkatan yang memadai dan memiliki tingkat kemasaman dalam rentang yang dapat diterima tanaman (di daerah tropika biasanya pH 5,5 sampai 6,8). KPKnya harus diatas 5 miliekuivalen/100 g sebagai batas minimum mutlak. Dalam budidaya sayuran, KPK kebanyakan tanah jauh lebih tinggi daripada ini.

Salah satu cara untuk memperbaiki tanah adalah dengan penggunaan bahan organik. Bahan organik mampu memperbaiki kemampuan memegang nutrien (KPK) dan kemampuan memegang air, serta memperbaiki pengatusan dan kemantapan tanah melalui perbaikan struktur tanahnya. Inilah alasan utama menekankan pemberianbahan organik secara teratur pada kebanyakan tanah tropika yang digunakan untuk produksi sayuran, terutama pada budidaya sayuran yang intensif.

Cara-cara praktis untuk memelihara ketersediaan bahan organik tanah dalam bertanam sayuran, sebagai berikut:

Pupuk Organik dan Kompos
Pupuk organik, disamping memasok beberapa nutrisi yang diperlukan untuk hasil sayuran yang tinggi, juga memegang peranan penting lainnya, mencakup perbaikan struktur tanah dan kapasitas penahan air dalam daerah perakaran, aerasi yang meningkat dari media perakaran, kerapatan massa tanah yang lebih rendah dan meningkatnya KPK serta pemegangan nutrien utama lainnya seperti nitrogen dan fosfor. Tetapi pupuk organik harus mempunyai komposisi yang benar dan harus memiliki nisbah nitrogen terhadap karbon yang tinggi; apabil tidak, mereka dapat menahan sementara nutrien tanaman dan mengurangi pertumbuhan tanaman.

Bila pupuk organik diberikan pada tanah, nitrogen yang terkandung didalamnya dipergunakan oleh jasad renik (mikroorganisme) untuk pertumbuhannya sendiri. Dengan bahan organik yang mempunyai kandungan nitrogen rendah (nisbah karbon terhadap nitrogen, atau C/N tinggi), seperti jerami padi atau brangkas jagung, jasad renik akan mengambil nitrogen yang diperlukan untuk mengurai bahan tersebut dari tanah, dengan demikian menyebabkan kekurangan hara tanaman yang paling esensial untuk sementara waktu. Inilah sebabnya mengapa dianjurkan memberikan pupuk anorganik sebagai tambahan pada pupuk kandang untuk mengoptimalkan hasil pertanaman, kecuali bila pupuk kandang tersebut bermutu sangat tinggi.

Kompos, pupuk segar (yakni tanpa jeram atau sekam padi dan bahan-bahan lainnya) tidak cocok untuk digunakan secara langsung, karena disamping kesulitan penanganannya juga dapat menyebabkan terbakarnya tanaman. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut harus dikomposkan sebelum digunakan. 

Sumbangan hara dari kompos meningkat dengan penambahan pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium pada waktu penbuatan. Setiap ton kompos diberi dosis pupuk sebagai berikut;
sulfat ammonia (nitrogen) 20 kg
superfosfat 30 kg
kalium nitrat 40 kg

Pupuk Hijau dan Sisa Pertanaman (Organik)
Di beberapa daerah, pupuk hewani tidak tersedia dalam jumlah cukup, dan untuk mempertahankan bahan organik pada tingkat yang memadai bagi pengelolaan tanah liat maupun tanah pasiran, diperlukan pupuk hijau disertai pembenaman sisa-sisa pertanaman. Pupuk anorganik saja mungkin tidak sesuai terutama pada tanah liat.

Celakanya banyak sisa tanaman yang memiliki nisbah C/N yang terlalu tinggi, terutama bila mulsa (biasanya jerami atau rumput kering) digunakan sebagai suatu perlakuan budidaya dan kemudian dibenamkan dalam tanah. Untuk penguraian jerami yang cukup, nisbah C/Nnya harus 10 atau dibawahnya. Karena alasan inilah perlu ditanam tanaman legum untuk kemudian dibenamkan dalam tanah. Tanaman legum dapat ditanam sekali dalam satu sampai tiga tahun dalam pergiliran di dalam pertanian sayuran, tergantung dari kondisi tanah dan kebutuhannya. Cara menaikkan tingkat bahan organik ini berguna di daerah dimana pupuk pabrik sulit didapatkan atau mahal. Penanaman legum ini juga akan mencegah tumbuhnya gulma. Jika tingkat bahan organik dipertahankan pada tingkatan yang layak (kira-kira 5% bahan organik atau 2% karbon), tanah untuk penanaman sayuran itu akan terolah baik dan secara konsisten memberikan hasil pertanaman yang baik. Nisbah C/N dapat juga diatur dengan menggunakan pupuk nitrogen.

 Memperbaiki tanah dengan Pupuk Organik

Jumat, 15 Mei 2015

Alih Fungsi Lahan Dari Tanaman Semusim Ke Tanaman Tahunan

Menciptakan suatu pertanian yang berkesinambungan dengan sistim ketahanan pangan, menuntut kita harus konsisten dengan bercocok tanam, khususnya tanaman padi, namun keseriusan tersebut juga tidak akan terjadi ketika areal persawahan kesulitan mendapati air.

Kunjungan P3L-Dharmasraya ke dusun Padang Tengah kecamatan Koto Salak, Kabupaten Dharmasraya, ditemukan permasalahn yang demikian, mas bro, salah seorang anggota kelompok tani berkisah tentang mula terjadinya alih fungsi lahan di kampungnya.


�Awalnya, semua kelompok tani kami bercocok tanam padi sawah, waktu sawah kami lancar mendapat air, namun pada suatu kali irigasi untuk sawah tersebut macet sehingga air susah kami dapati, hal itu terjadi cukup lama, sehingga pada akhirnya anggota kelompok tani kami satu persatu bertanam karet dan sawit �, kata mas bro.

Pada moment macetnya saluran irigasi merupakan alasan yang sangat ideal untuk beralih fungsi lahan, air yang tidak cukup jika dipaksakan bertanam padi yang terjadi bisa saja gagal panen, ditambah lagi tanaman tahunan seperti karet dan sawit tidak terlalu sulit perawatannya, namun disisi lain untuk harga dua komoditi tersebut ditentukan oleh perusahaan, disini sebenarnya yang sangat menyulitkan bagi petani karet dan sawit, terlebih ketika hutang rumah tangga tani menumpuk dan nilai jualnya merosot.

Satu-satunya yang mungkin membedakan dengan padi sawah adalah, ketika harga beras anjlok akibat import beras dari Thailand, maka petani padi masih punya pilihan untuk menyimpannya dalam waktu yang cukup lama, menyimpan ini tentu saja menyimpan dan tidak kelaparan, sedangkan untuk komoditi karet dan sawit tidak mungkin hal seperti itu dilakukan.

Sekarang salah satu kelompok tani yang berada di dusun padang tengah mengalami persoalan lain, setelah persoalan alih fungsi lahan sekarang mereka tidak kunjung mendapat bantuan dari pemerintah, hal ini mungkin patut juga dipertibangkan, ketika jumlah areal dan kelompok tani mereka tidak lagi mencukupi untuk memenuhi syarat sebuah bantuan tani, tentu hal seperti ini harus pula diperhatikan, bukan berarti ditinggalkan begitu saja.


Jika anda yang membaca artikel ini berminat MENGULURKAN TANGAN, untuk membantu solusi terhadap kondisi kelompok tani di padang tengah, silahkan hubungi P3L-DHARMASRAYA melalui email : p3l.dharmasraya@gmail.com, anda mengirikan surel melalui email, setelah itu kita ketemuan, kemudian menuju ke lokasi.

Rabu, 16 Juli 2014

Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah

Di daerah-daerah tropika kebanyakan tanahnya bersifat masam, karena pengaruh curah hujan yang tinggi sehingga basa-basa dapat tukarnya tercuci. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman  tersebut adalah dengan melakukan pengapuran jika akan dilakukan usaha pertanaman sayuran, terutama untuk kerabat Cruciferae (kerabat kubis, kubis bunga dan sebagainya). Tanah-tanah yang terutama membutuhkan kapur adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol yang mengalami pencucian berat. Tanah gambut dataran rendah dan tanah sulfat masam pesisir (sering terdapat bersamaan) tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian tanpa terlebih dahulu diberikan kapur, karena pada tingkat kemasaman dibawah sekitar pH 5,5, ion-ion aluminium dan pada bebberapa ion-ion tanah magnesium, dibebaskan dari mineral-mineral lempung dan beracun bagi kebanyakan jenis tanaman.
Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah
(Ilustrasi)
Banyaknya kapur yang dibutuhkan untuk tanah dan pertanaman tropika berbeda dengan yang telah lazim berlaku di Amerika utara dan Eropa. Ini disebabkan karena tanaman tropika dan varietas-varietasnya teradaptasi lebih baik pada tanah-tanah masam daripada tanaman iklim sedang. Rizobia kacang-kacangan tropika, seperti dari kelompok kacang tunggak yang kadang-kadang digunakan untuk menginokulasi akar legum (kacangan) lain, dapat berfungsi pada tingkat pH yang lebih rendah.

Takaran pupuk yang dianjurkan bervariasi menurut  pH. Pada tanah yang sangat masam seperti tanah-tanah sulfat masam (Tanah sulfat masam biasanya adalah tanah yang terbentuk di daerah pantai), mungkin diperlukan sebanyak 5 ton/ha selama beberapa tahun untuk menetralkan asam yang terbentuk pada waktu pengairan atau pengatusan. Kebanyakan tanah tropika dengan pH dalam kisaran 5,0 sampai 5,5, akan lebih baik jika diberika perlakuan pengapuran kira-kira 1 ton/ha kapur.

Manfaat utama dari kapur adalah sebagai berikut:
1. Kapur meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam, sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat yang demikian tersedia bagi tanaman.
2. Kalsium dan magnesium, yang merupakan unsur pokok utama kapur, adalah hara esensial yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah tropika masam.
3. Pada tanah lempung masam, kapur dapat membantu memperbaiki kegemburan tanah dengan meningkatkan struktur remah atau gembur.

Tetapi tanah-tanah tropika dengan nilai pH lebih besar dari 6, tidak akan mendapatkan manfaat dari kapur bahkan pengapuran dapat merugikan atau merusak.

Bahaya pengapuran yang berlebihan dapat menampakkan diri dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Tanaman menjadi klorotik (kuning atau pucat) karena kekurangan zat besi.
2. Seng, tembaga, mangan dan boron dapat menjadi kurang terlarutkan dan dengan demikian akan kurang tersedia bagi tanaman.
3. Fosfor dan molibdenum dapat menjadi kurang tersedia karena pH yang meningkat.

Cara paling lazim untuk mengatasi pengapuran yang berlebihan adalah dengan pemberian bahan organik, seperti pupuk organik hewani dalam jumlah yang besar.

Dalam usaha budidaya sayuran, karena tanah sering diolah, kapur dapat diberikan dalam takaran terbatas pada setiap pertanaman sampai kemudian pH tanah mencapai nilai 6. Beberapa pertanaman, terutama kerabat kubis sangat tanggap baik terhadap kapur dan takaran yang lebih tinggi biasanya menguntungkan, bahkan pada tanah yang relatif tidak masam.

Kapur harus disebarkan merata pada bedengan dan dibenamkan pada waktu pengolahan tanah bedengan.