Sampah sisa sayuran bisa dijadikan untuk bahan pembuatan kompos.
Tampilkan postingan dengan label cara mudah membuat kompos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara mudah membuat kompos. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 April 2015
Manfaatkan Sampah Sayuran Untuk Kompos
Sampah sisa sayuran bisa dijadikan untuk bahan pembuatan kompos.
Minggu, 05 April 2015
Potensi Biogas Sumatera Barat
Kebijakan tentang pencabutan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) awal periode pemerintahan Jokowi � JK, menjadi isu sentra bagi rakyat Indonesia khususnya masyarakat miskin, ide pemerintah untuk tidak memanjakan rakyatnya dengan subsidi BBM seakan menjadi pukulan telak bagi rakyatnya, walau terkadang kebijakan tentang penghapusan subsidi GAS dan BBM tersebut dinilai aneh bagi para pengamat ekonomi, namun pemerintah seakan tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan mereka.
Mengenai carut marutnya persoalan subsidi BBM dan Gas, tentu ada baiknya pula dibicarakan tentang energy alternative selain dari energy alam dan fosil tersebut, salah satu alternative yang mungkin untuk dijadikan energy cadangan adalah dengan memanfaatkan ternak sebagai sumber energy baru.
Pemanfaatan ternak sebagai sumber energy terbarukan baru berkembang di pulau jawa saja, sementara itu daerah-daerah lain belum dilakukan dengan maksimal, termasuk di Sumatera Barat.
Situs berita www.tempo.co, kamis 17 Maret 2013 memberitakan di Jawa Timur ada sekitar 5.100 Reaktor Biogas, energy tersebut dimanfaatkan dari hewan ternak masyarakatnya, proyek yang di motori oleh Yayasan Rumah Energi dalam program BIRU (Biogas Rumah), menurut Koordinator Program BIRU Provinsi Jawa Timur, Wasis Sasmito, dari 8.300 reaktor yang telah dibangun secara nasional, jumlah terbanyak di Jawa Timur. Sedangkan provinsi lain yang juga telah memiliki reactor biogas adalah di Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.
Tentu tidak bermaksud membandingkan Sumatera Barat dengan pulau yang selalu mendapat perhatian penuh tersebut, Provinsi Jawa Timur membangun energy Biogas tersebut juga dengan kerja keras, sehingganya yayasan rumah energy yang bekerjasama dengan Hivos Norwegia mampu menjadikan potensi daerah Jawa Timur sebagai program Biru yang berhasil.
Sementara itu tahun 2012 terjadi lagi penambahan plafon KUPS sebanyak 10 Miliar, mengutip dari pemberitaan situs www.antarasumbar.com , kata Kepala Dinas Peternakan Sumbar, Edwardi, data dari realisasi KUPS diterima Disnak Sumbar dari bank-bank penyalur, secara keseluruhan sebesar Rp27,53 miliar lebih, khusus Bank Nagari plafon sebesar Rp23,27 miliar dan Bank Nagari Syariah dengan plafon senilai Rp1,75 miliar, kini sudah terealisasi sebesar Rp23 miliar.
Alangkah baiknya kita mulai mengembangkan alternative energy biogas ini, untuk mengantisipasi pencabutan penuh subsidi Gas dan BBM yang setiap hari menghantui ekonomi rakyat, lalu bagaimana cara kita yang di Sumatera Barat ini memulainya, kita simak pada artikel selanjutnya.
Mengenai carut marutnya persoalan subsidi BBM dan Gas, tentu ada baiknya pula dibicarakan tentang energy alternative selain dari energy alam dan fosil tersebut, salah satu alternative yang mungkin untuk dijadikan energy cadangan adalah dengan memanfaatkan ternak sebagai sumber energy baru.
Pemanfaatan ternak sebagai sumber energy terbarukan baru berkembang di pulau jawa saja, sementara itu daerah-daerah lain belum dilakukan dengan maksimal, termasuk di Sumatera Barat.
Situs berita www.tempo.co, kamis 17 Maret 2013 memberitakan di Jawa Timur ada sekitar 5.100 Reaktor Biogas, energy tersebut dimanfaatkan dari hewan ternak masyarakatnya, proyek yang di motori oleh Yayasan Rumah Energi dalam program BIRU (Biogas Rumah), menurut Koordinator Program BIRU Provinsi Jawa Timur, Wasis Sasmito, dari 8.300 reaktor yang telah dibangun secara nasional, jumlah terbanyak di Jawa Timur. Sedangkan provinsi lain yang juga telah memiliki reactor biogas adalah di Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.
Tentu tidak bermaksud membandingkan Sumatera Barat dengan pulau yang selalu mendapat perhatian penuh tersebut, Provinsi Jawa Timur membangun energy Biogas tersebut juga dengan kerja keras, sehingganya yayasan rumah energy yang bekerjasama dengan Hivos Norwegia mampu menjadikan potensi daerah Jawa Timur sebagai program Biru yang berhasil.
Halnya dengan Sumatera Barat, tahun 2010 Provinsi ini mendapat kucuran dana yang fantastis lewat program Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP), melalui kredit KKPE dan KUPS, situs Gubernur Sumbar www.irwan-prayitno.com dalam artikel �Sumatera Barat Bangkit� terbitan tanggal 24 Agusntus 2014, menjelaskan dengan rinci, bahwa melalui program GPP sudah didistribusikan sapi sebanyak 29.248 ekor, meliputi 16.943 KK dengan nilai Rp 400 miliar. Ternak unggas sejumlah 74.000 ekor dengan nilai Rp 4 miliar. Penerima kredit KKPE Peternakan telah berjumlah 886 kelompok dengan nilai Rp 95 miliar dan KUPS dengan peserta 106 orang dengan nilai Rp 52 miliar, selain itu berbagai pihak dan pemangku kepentingan ikut juga terlibat dalam pengembangan ternak di Sumatera Barat.
Sementara itu tahun 2012 terjadi lagi penambahan plafon KUPS sebanyak 10 Miliar, mengutip dari pemberitaan situs www.antarasumbar.com , kata Kepala Dinas Peternakan Sumbar, Edwardi, data dari realisasi KUPS diterima Disnak Sumbar dari bank-bank penyalur, secara keseluruhan sebesar Rp27,53 miliar lebih, khusus Bank Nagari plafon sebesar Rp23,27 miliar dan Bank Nagari Syariah dengan plafon senilai Rp1,75 miliar, kini sudah terealisasi sebesar Rp23 miliar.
Nilai yang disebutkan diatas merupakan angka yang luar biasa untuk bantuan kepada masyarakat dibidang peternakan, sangat besar peluangnya untuk menciptakan energy terbarukan dari puluhan ribu bantuan ternak yang sudah di kucurkan dalam bentuk KKPE dan KUPS, namun agaknya pergerakan kepada penciptaan energy biogas dengan memanfaatkan hewan ternak ini, belum sepenuhnya dilakukan atau bisa jadi belum dilakukan sama sekali.
Alangkah baiknya kita mulai mengembangkan alternative energy biogas ini, untuk mengantisipasi pencabutan penuh subsidi Gas dan BBM yang setiap hari menghantui ekonomi rakyat, lalu bagaimana cara kita yang di Sumatera Barat ini memulainya, kita simak pada artikel selanjutnya.
![]() |
| (Foto : Sapi ternak P3L Dharmasraya) |
Selasa, 24 Maret 2015
Cara Mengelola Limbah Rumah Tangga Menjadi Kompos

Limbah tidak saja dihasilkan oleh industri skala besar, rumah-rumah penduduk juga menghasilkan limbah, pengelolaan limbah tidak pula harus yang dihasilkan oleh sebuah industri pabrik, limbah rumah tangga juga bisa dimanfaatkan namun untuk limbah yang satu ini jarang sekali orang memanfaatkannya, apalagi membuatnya menjadi kompos.
Sebelum membuat limbah menjadi kompos hal pertama yang perlu diperhatikan adalah, bahwa limbah rumah tangga yang akan diolah tersebut merupakan limbah yang bisa terurai (organik), seperti sisa sayuran, kulit buah-buahan, kayu dan lain sebagainya, limbah yang tidak bisa terurai seperti sampah plastik atau sisa-sisa pekerjaan besi atau alumunium bisa dijual kepada �toke limbah non organik� (istilah saya sendiri).
Cara memanfaatkan limbah rumah tangga ini tergolong sangat mudah, dan manfaatnya sangat banyak ketika limbah rumah tangga sudah menjadi kompos, salah satu manfaat yang bisa kita petik adalah, dengan kompos yang berasal dari limbah rumah tangga anda tidak perlu repot lagi membeli pupuk untuk bunga kesayangan anda, selain itu jika jumlah produksinya sudah banyak kompos tersebut bisa pula dimanfaatkan sebagai pupuk di kebun, hasilnya terbukti sangat manjur dan ramah lingkungan.
Salah satu organisasi masyarakat yang sudah membuktikan kompos dari limbah ini bisa anda saksikan di Kabupaten Dharmasraya, tepatnya di Kecamatan Sitiung, kelompok yang menamakan dirinya P3L (Perhimpunan Petani Peduli Lingkungan) Dharmasraya, semua limbah yang berasal dari sampah pasar dimanfaatkan oleh kelompok ini menjadi kompos, dan di manfaatkan sebagai pupuk di areal persawahan atau perkebunan anggota kelompok.
Bagaimana caranya memanfaatkan limbah rumah tangga ini menjadi kompos, mari kita simak pembahasannya.
Cara memanfaatkan limbah rumah tangga.
1. Sediakan limbah rumah tangga anda, seperti sisa-sisa potongan sayur, cabai, bawang dan sebagainya, kemudian kulit buah-buahan, sisa-sisa masakan, dan barang sisa lainnya yang bisa terurai seperti potongan kayu,kertas dan lain-lain.
2. Semua sisa tersebut dikumpulkan, jika anda merasa kurang banyak anda boleh mengumpulkannya dalam waktu seminggu, intinya sesuai dengan banyaknya limbah rumah tangga yang anda hasilkan.
3. Setelah semua sisa tersebut dikumpulkan menjadi satu, buatlah lubang seukuran 4x 5 m dipekarangan belakang rumah anda, atau ditempat khusus yang sudah anda sediakan.
4. Masukkan semua limbah yang sudah anda kumpulkan tadi kedalam lubang tersebut.
5. Jika anda ingin limbah rumah tangga anda cepat menjadi kompos, anda bisa menambahkan senyawa kimia seperti EM4 atau senyawa herbafarm yang sifatnya menguraikan dengan cepat, tapi jika anda ingin hasilnya benar-benar alami jangan berikan campuran apapun didalam lubang komposnya.
6. Setelah semua limbah rumah tangga dimasukkan kedalam lubang yang sudah disediakan tadi, tutup lubang tersebut dengan tanah, lamanya penutupan lubang tergantung pula pada perlakuan anda pada nomor 5 diatas, jika anda menggunakan senyawa kimia sebagai pengurai waktu yang anda butuhkan lebih kurang dua sampai tiga minggu, jika perlakuan kompos anda tanpa campuran senyawa kimia pengurai, maka anda membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama yakni sekitar tiga sampai empat bulan.
Setelah anda yakin limbah rumah tangga anda terurai dalam lubang kompos, anda tinggal menggalinya kembali, kemudian masukkan kedalam karung atau wadah yang sudah anda persiapkan, nah sampai tahap ini kompos anda siap untuk digunakan, sekarang anda tinggal memberikannya kepada tanaman yang membutuhkan.
Selamat mencoba, salam hijau �
![]() |
| (kompos P3L yang sudah jadi) |
Langganan:
Postingan (Atom)

